Hidangan Lampung

Hidangan Lampung adalah kumpulan hidangan, makanan ringan, kue tradisional, minuman, serta produk pangan yang berkembang dalam lingkungan masyarakat di Lampung dan kawasan budaya Lampung. Keragaman hidangan tersebut berkaitan dengan lingkungan geografis, hasil pertanian dan perikanan, tradisi keluarga, serta praktik sosial masyarakat Lampung. Beberapa hidangan juga memiliki hubungan erat dengan upacara adat, perayaan keagamaan, pertemuan keluarga, dan tradisi makan bersama. [1]
Dalam penggunaannya, istilah hidangan Lampung tidak selalu menunjuk pada satu resep atau satu kelompok makanan. Masakan yang berkembang di wilayah Lampung memperlihatkan variasi berdasarkan daerah dan lingkungan budaya, termasuk masyarakat Lampung beradat Saibatin dan Pepadun, serta masyarakat dari kelompok etnis lain yang tinggal dan berinteraksi di provinsi tersebut. Penelitian mengenai gastronomi Lampung menunjukkan bahwa makanan tradisional juga berfungsi sebagai media pembentukan identitas, hubungan sosial, dan pewarisan nilai budaya. [2]
Karakteristik
[sunting | sunting sumber]Hidangan Lampung memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan setempat, antara lain ikan air tawar dan laut, kelapa, beras dan beras ketan, pisang, durian, rebung, sayuran, serta berbagai rempah. Inventarisasi makanan tradisional Lampung juga menunjukkan keberadaan hidangan berbahan ikan, sayuran, kelapa, daging, hasil hutan, serta berbagai penganan berbahan ketan. [1][3]
Teknik pengolahan yang digunakan juga beragam, seperti merebus, memasak dengan santan, mengukus, memanggang, membakar, menggoreng, serta melakukan fermentasi. Teknik tersebut dapat menghasilkan hidangan dengan karakter rasa yang berbeda dan pada beberapa makanan menjadi bagian penting dari identitas kulinernya. [1]
Salah satu ciri yang menonjol adalah penggunaan ikan dan hasil perairan. Hal tersebut berkaitan dengan keberadaan sungai, danau, wilayah pesisir, serta sumber daya perikanan di Lampung. Seruit, misalnya, dapat menggunakan ikan yang dibakar, digoreng, atau diolah dengan teknik lain dan disajikan bersama sambal, tempoyak, serta sayuran. [4]
Kelapa juga menjadi bahan penting dalam berbagai hidangan Lampung, terutama dalam pembuatan santan dan bumbu. Gulai Taboh dan Gulai Balak merupakan contoh hidangan yang dalam dokumentasi tradisionalnya menggunakan santan. [5]
Bahan pangan juga dapat diawetkan melalui fermentasi. Tempoyak, misalnya, merupakan produk fermentasi daging buah durian yang dikenal di Lampung dan sejumlah wilayah Sumatra serta Kalimantan. [6]
Hidangan dan tradisi makan
[sunting | sunting sumber]Sebagian makanan Lampung dikonsumsi sebagai hidangan sehari-hari, sedangkan lainnya berkaitan dengan peristiwa tertentu. Dalam masyarakat Lampung, makanan dapat hadir dalam pernikahan, syukuran, hari raya, kegiatan adat, serta pertemuan keluarga. [2]
Tradisi makan bersama yang paling dikenal adalah nyeruit, yang berkaitan dengan penyajian dan konsumsi seruit. Penelitian etnografi mengenai seruit menunjukkan bahwa kegiatan makan bersama tersebut dapat berfungsi sebagai praktik komensalitas dan sarana membangun hubungan sosial di lingkungan masyarakat Lampung yang semakin multikultural. [7]
Penelitian mengenai tradisi nyeruit di Bandar Lampung juga menempatkannya sebagai bagian dari warisan gastronomi yang terdiri atas makanan, cara penyajian, praktik makan, serta konteks sosial di sekitarnya. [8]
Dengan demikian, hidangan Lampung tidak hanya dapat dipahami berdasarkan komposisi bahan dan cara memasak, tetapi juga melalui cara makanan tersebut disajikan, dimakan, dan digunakan dalam kehidupan sosial. [2]
Hidangan utama
[sunting | sunting sumber]Seruit
[sunting | sunting sumber]Seruit merupakan salah satu hidangan Lampung yang paling kuat keterkaitannya dengan praktik makan bersama. Hidangan ini dapat terdiri atas ikan yang dibakar, digoreng, atau diolah dengan cara lain, kemudian disantap bersama sambal, tempoyak atau buah seperti mangga kueni, serta sayuran rebus maupun lalapan. [4]
Dalam perkembangannya, seruit tidak hanya dikonsumsi di rumah atau dalam acara adat, tetapi juga disajikan di rumah makan. Penelitian tentang komersialisasi seruit menunjukkan bahwa rumah makan seruit telah berkembang di sejumlah kota di Lampung, termasuk Bandar Lampung, Metro, dan Menggala. [7]
Seruit ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2015 bersama Gulai Taboh dan sejumlah karya budaya Lampung lainnya. [9]
Gulai Taboh
[sunting | sunting sumber]Gulai Taboh adalah hidangan berkuah santan yang berkembang dalam tradisi kuliner Lampung, khususnya kawasan pesisir. Dokumentasi Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya menyebut Gulai Taboh dalam kaitannya dengan Kabupaten Pesisir Barat dan kekayaan hasil laut serta perkebunan wilayah tersebut. [10]
Gulai Taboh menggunakan santan dan rempah serta dapat dikombinasikan dengan ikan dan bahan nabati sesuai kebiasaan setempat. Hidangan ini juga tercatat sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Lampung. [9][10]
Pemerintah Provinsi Lampung juga mendokumentasikan penyajian Gulai Taboh sebagai salah satu menu yang digunakan untuk memperkenalkan makanan khas Lampung kepada wisatawan melalui restoran dan usaha jasa pariwisata. [11]
Gulai Balak
[sunting | sunting sumber]Gulai balak merupakan hidangan gulai yang dalam dokumentasi makanan tradisional Lampung menggunakan daging, santan, serta rempah-rempah seperti pala, jahe, daun jeruk purut, lengkuas, bawang, ketumbar, lada, kunyit, dan kemiri. [5]
Dokumentasi pemerintah mengenai makanan tradisional Sumatra mencatat Gulai Balak sebagai makanan masyarakat Lampung dan mengaitkannya dengan kegiatan adat. [1]
Gulai latuk-latuk
[sunting | sunting sumber]Gulai latuk-latuk merupakan hidangan sehari-hari masyarakat Lampung yang terdiri atas ikan dan berbagai bahan sayuran yang dimasak menjadi satu. Dokumentasi *Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia* mencatat penggunaan labu kuning, rebung, jamur krikit, jagung muda, kacang panjang, kemangi, ikan, serta berbagai bumbu dan kelapa. [12]
Pendap dan hidangan ikan lainnya
[sunting | sunting sumber]Di wilayah Lampung bagian barat yang berhubungan secara budaya dengan Bengkulu terdapat hidangan berbahan ikan yang memiliki kemiripan dengan tradisi kuliner Bengkulu, termasuk pendap. Penelitian mengenai Pendap menempatkannya sebagai kuliner warisan Bengkulu yang menggunakan ikan, kelapa, rempah, serta daun untuk pembungkus dan dimasak dalam waktu lama. [13]
Karena persebaran budaya tidak selalu mengikuti batas administratif modern, hidangan yang memiliki hubungan dengan Lampung barat dan wilayah Bengkulu perlu dijelaskan berdasarkan sumber daerahnya dan tidak secara otomatis dikategorikan sebagai makanan yang hanya berasal dari Lampung.
Hidangan berbasis fermentasi
[sunting | sunting sumber]Tempoyak
[sunting | sunting sumber]Tempoyak adalah produk fermentasi daging buah durian yang digunakan sebagai lauk pendamping, bumbu, atau bahan dalam sejumlah masakan. Di Lampung, tempoyak merupakan salah satu komponen yang sering dikaitkan dengan seruit. [6]
Penelitian Universitas Lampung menunjukkan bahwa tempoyak dibuat dengan mencampurkan daging durian dengan garam dan membiarkannya mengalami fermentasi selama beberapa hari. Kondisi fermentasi memengaruhi keasaman dan pertumbuhan bakteri asam laktat. [14]
Kajian lain meneliti bakteri asam laktat yang berasal dari tempoyak dan potensinya dalam pengawetan pangan. [15]
Pekasom
[sunting | sunting sumber]Pekasom atau bekasom merupakan salah satu produk pangan fermentasi yang tercatat dalam keragaman kuliner Lampung. Pengolahannya menggunakan ikan dan bahan pendukung seperti nasi dan garam; beberapa dokumentasi lokal juga mencatat penggunaan rebung. Fermentasi menghasilkan rasa asam dan gurih. [16]
Penganan dan kue tradisional
[sunting | sunting sumber]Lampung memiliki beragam penganan berbahan beras ketan, tepung beras, pisang, santan, gula, dan bahan lokal lainnya. Penelitian mengenai kue tradisional Lampung mencatat antara lain Selimpok, Sekubal, Engkak, Bangkit, Lapis Legit, dan Bebai Maghing. [17]
Sekubal
[sunting | sunting sumber]Sekubal atau segubal merupakan makanan berbahan utama beras ketan dan santan yang dibungkus dengan daun pisang. Dokumentasi pemerintah mencatat sekubal sebagai makanan yang berkaitan dengan hari raya dan kehidupan masyarakat Lampung. [18]
Sekubal juga hadir dalam konteks sosial dan ritual. Dalam dokumentasi Balai Pelestarian Nilai Budaya, makanan berbahan ketan tersebut digunakan dalam ritual mendirikan rumah adat Kampung Wana di Lampung Timur. [19]
Penelitian etnosains tahun 2026 juga mendokumentasikan proses pembuatan sekubal dan menghubungkannya dengan pengetahuan lokal masyarakat Lampung. [20]
Selimpok
[sunting | sunting sumber]Selimpok merupakan penganan berbahan ketan dan pisang. Dalam penelitian mengenai kue tradisional Lampung, selimpok dibedakan antara selimpok lunik dan selimpok bungking berdasarkan teknik pengolahan dan pembungkusannya. [21]
Engkak
[sunting | sunting sumber]Engkak atau engkak ketan merupakan kue berlapis yang menggunakan tepung ketan, telur, gula, santan, dan bahan lemak. Proses pembuatannya dilakukan secara bertahap dengan memanggang lapisan adonan satu demi satu. [22]
Engkak termasuk kelompok kue tradisional Lampung yang juga dibahas dalam penelitian etnomatematika mengenai bentuk dan proses pembuatan kue daerah tersebut. [23]
Buak Tat dan Kue Tat
[sunting | sunting sumber]Buak Tat atau Kue Tat merupakan salah satu penganan tradisional Lampung. Kantor Bahasa Provinsi Lampung menerbitkan buku dwibahasa Kue Tat Dika yang memperkenalkan Kue Tat sebagai kue khas Lampung. [24]
Penelitian etnosains Universitas Lampung tahun 2026 mengkaji proses pembuatan Buak Tat, termasuk persiapan bahan, pengayakan tepung, pembuatan adonan, pembuatan isian, pembentukan, pemanggangan, dan pendinginan. [25]
Buak Tat juga ditemukan dalam konteks pertemuan sosial masyarakat Pesisir Barat, antara lain dalam tradisi Bedikekh dan Ngejalang. [26]
Bebai Maghing
[sunting | sunting sumber]Bebai Maghing merupakan penganan tradisional masyarakat Lampung yang terdokumentasi dalam *Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia*. Nama tersebut dijelaskan dalam konteks bahasa Lampung dan cara pembuatannya yang secara tradisional dapat dilakukan secara berkelompok oleh perempuan. [27]
Bebai Maghing juga termasuk kelompok kue tradisional Lampung yang dicatat dalam kajian mengenai kue daerah. [28]
Benjak-enjak
[sunting | sunting sumber]Benjak-enjak merupakan penganan tradisional Lampung berbahan dasar ketan dan pisang. Penganan ini termasuk dalam kelompok kue tradisional Lampung yang didokumentasikan dalam berbagai inventarisasi makanan dan kajian budaya daerah. [29]
Geguduh
[sunting | sunting sumber]Geguduh merupakan penganan berbahan pisang yang dikenal sebagai salah satu makanan ringan tradisional Lampung. Hidangan ini termasuk dalam inventarisasi kuliner Lampung yang berkembang dalam lingkungan masyarakat setempat. [30]
Hidangan dan produk pangan lainnya
[sunting | sunting sumber]Peros Masin
[sunting | sunting sumber]Peros Masin atau Pekhos Masin merupakan hidangan ikan yang dimasak dengan bumbu tanpa menggunakan santan. Hidangan ini tercatat sebagai salah satu karya budaya Lampung yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2023. [31]
Lempok durian
[sunting | sunting sumber]Lempok durian merupakan produk olahan durian yang dibuat terutama dari daging buah durian dan gula. Produk ini dikenal di beberapa wilayah Sumatra dan Kalimantan, termasuk Bengkulu dan Bengkalis, dan memiliki standar nasional Indonesia untuk lempok durian. [32]
Keberadaan lempok di Bengkulu juga telah menjadi objek penelitian mengenai karakteristik mutu dan pengolahan produk berbasis durian. [33]
Gabing
[sunting | sunting sumber]Gabing merupakan makanan yang menggunakan bagian muda batang kelapa sebagai bahan utama dan dimasak sebagai sayuran. Gabing termasuk dalam daftar makanan tradisional yang dikenal di Lampung. [34]
Pindang Lampung
[sunting | sunting sumber]Pindang merupakan kelompok hidangan berkuah berbahan ikan yang juga berkembang di Lampung. Penamaan dan bentuknya memiliki hubungan dengan tradisi pindang di wilayah Sumatra lainnya, sehingga penyebutan âpindang Lampungâ perlu dibedakan berdasarkan bahan, bumbu, dan cara pengolahan lokal. Kajian mengenai leksikon makanan Lampung mencatat pindang sebagai salah satu nama makanan dalam kosakata kuliner daerah tersebut. [3]
Kopi Lampung
[sunting | sunting sumber]Kopi Lampung merupakan produk kopi yang berkembang di wilayah Lampung dan terutama dikenal melalui produksi kopi robusta. Kopi menjadi salah satu produk pertanian dan komoditas penting dalam perekonomian provinsi tersebut, selain digunakan sebagai minuman sehari-hari dan bagian dari budaya konsumsi lokal.
Dalam konteks makanan dan penganan tradisional, kopi juga kerap disajikan bersama kue daerah. Dokumentasi tradisi Bedikekh di Lampung Barat, misalnya, mencatat penyajian Buak Tat, Buak Cucokh, dan Buak Selimpok bersama kopi robusta dan teh manis. [35]
Makanan dalam upacara dan perayaan
[sunting | sunting sumber]Makanan memiliki kedudukan penting dalam sejumlah kegiatan sosial masyarakat Lampung. Hidangan dapat disediakan oleh keluarga penyelenggara untuk menjamu tamu, menjadi bagian dari makan bersama, atau ditempatkan sebagai bagian dari perlengkapan upacara.
Dalam tradisi Ngejalang di Pesisir Barat, makanan ditempatkan dalam wadah pahar dan dibawa atau disajikan dalam kegiatan silaturahmi pada hari raya. Hidangan yang dicatat dalam penelitian tersebut antara lain Gulai Taboh serta berbagai kue tradisional seperti Buak Tat. [36]
Pada kegiatan adat dan pertemuan keluarga, hidangan juga berfungsi sebagai sarana menjamu tamu. Kajian gastronomi Lampung menghubungkan praktik penyajian makanan dengan nilai penghormatan terhadap tamu, kebersamaan, musyawarah, dan hubungan sosial. [2]
Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa kategori âmakanan Lampungâ tidak hanya dibentuk oleh resep, tetapi juga oleh konteks penggunaannya dalam masyarakat.
Keragaman menurut wilayah
[sunting | sunting sumber]Keragaman hidangan Lampung dipengaruhi oleh perbedaan lingkungan dan sejarah masing-masing wilayah. Daerah pesisir memiliki akses terhadap hasil laut dan budaya perdagangan, sedangkan daerah pedalaman memiliki tradisi pengolahan hasil pertanian, perkebunan, sungai, dan hutan. Inventarisasi pemerintah mengenai makanan tradisional Sumatra menunjukkan variasi makanan Lampung berdasarkan lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat. [1]
Pesisir Barat, misalnya, memiliki tradisi kuliner yang berkaitan dengan masyarakat Lampung Saibatin. Dokumentasi kebudayaan mengenai wilayah tersebut mencatat sejumlah hidangan tradisional seperti Gulai Bebat, Gulai Paku, Gulai Bung, Gulai Kekhita, Gulai Taduk, serta berbagai penganan seperti Buak Tat dan Selimpok. [37]
Di Lampung Timur, sekubal tercatat dalam konteks ritual masyarakat Kampung Wana. [38]
Sementara itu, Bandar Lampung berkembang sebagai pusat perdagangan, jasa, pariwisata, dan rumah makan sehingga berbagai makanan tradisional dari kabupaten dan wilayah budaya Lampung dapat ditemukan dalam bentuk komersial. Penelitian pemetaan wisata kuliner tahun 2022 menemukan sejumlah restoran di Bandar Lampung yang menyediakan menu kuliner tradisional Lampung. [39]
Hubungan dengan budaya Lampung
[sunting | sunting sumber]Makanan tradisional merupakan salah satu bentuk pengetahuan budaya yang diwariskan melalui praktik keluarga, kegiatan masyarakat, serta peristiwa adat. Penelitian tentang gastronomi Lampung menunjukkan bahwa makanan dapat menjadi sarana mempertahankan identitas dan nilai lokal, termasuk nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap orang lain. [2]
Hubungan tersebut juga terlihat dalam seruit. Praktik nyeruit tidak hanya berkaitan dengan konsumsi makanan, tetapi juga dengan kebiasaan mengundang orang lain untuk makan bersama. Dalam masyarakat perkotaan yang multietnis, praktik tersebut dapat menjadi sarana interaksi sosial lintas kelompok. [7]
Penggunaan bahan lokal dan teknik tradisional juga menjadikan makanan sebagai salah satu bentuk pengetahuan masyarakat mengenai lingkungan. Sejumlah penelitian etnosains mengenai Seruit, Sekubal, Buak Tat, dan tempoyak menunjukkan bahwa proses pengolahan makanan tradisional dapat dianalisis sebagai pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi. [4][40][41]
Pengaruh dan pertukaran kuliner
[sunting | sunting sumber]Hidangan Lampung berkembang dalam lingkungan Sumatra yang sejak lama menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, beberapa makanan memiliki kemiripan dengan hidangan dari daerah tetangga, terutama Sumatra Selatan, Bengkulu, Jambi, dan wilayah Melayu lainnya.
Kemiripan tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa satu daerah merupakan pencipta makanan yang lain. Kesamaan bahan seperti ikan, kelapa, cabai, rempah, beras, dan durian dapat menghasilkan teknik dan cita rasa yang serupa. Oleh karena itu, asal-usul suatu makanan perlu ditentukan berdasarkan sumber sejarah, etnografi, atau dokumentasi daerah yang secara khusus membahas makanan tersebut.
Kajian mengenai nama makanan Lampung juga menunjukkan bahwa sejumlah nama makanan merupakan bagian dari kosakata budaya masyarakat Lampung dan dapat ditelusuri melalui wawancara serta naskah yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan setempat. [3]
Pelestarian
[sunting | sunting sumber]Pelestarian makanan tradisional Lampung dilakukan melalui dokumentasi, penelitian, pendidikan, kegiatan adat, pengembangan usaha kuliner, serta pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia untuk jenis budaya tertentu.
Pada 2015, Gulai Taboh dan Seruit termasuk karya budaya Lampung yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. [9][42]
Pemerintah Provinsi Lampung juga menerbitkan materi dokumentasi mengenai makanan adat melalui seri Dapur dan Warisan. Cerita Makanan Adat Lampung, yang antara lain membahas Seruit, Tempoyak, dan Gulai Taboh sebagai bagian dari warisan kuliner dan praktik sosial masyarakat. [43]
Dokumentasi dan penelitian juga penting karena sebagian makanan tradisional mulai jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kajian mengenai kue tradisional Lampung menunjukkan adanya perubahan preferensi generasi muda terhadap makanan modern dan perlunya strategi pengenalan kembali makanan lokal. [28]
Daftar hidangan
[sunting | sunting sumber]Daftar berikut merupakan contoh hidangan dan produk pangan yang didokumentasikan dalam sumber kebudayaan, penelitian, atau publikasi mengenai kuliner Lampung. Daftar ini tidak dimaksudkan sebagai daftar lengkap seluruh makanan yang berkembang di Lampung.
Hidangan utama dan lauk
[sunting | sunting sumber]Produk fermentasi dan pendamping
[sunting | sunting sumber]Kue dan makanan ringan
[sunting | sunting sumber]Minuman dan hasil perkebunan
[sunting | sunting sumber]Galeri
[sunting | sunting sumber]- Gulai Taboh khas Lampung
- Engkak ketan khas Lampung
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 Soepono, Sri Saadah; Sri Hartini; Ernayanti Lindyastuti; Sri Guritno; F. Sri Lestariyati; Kencana Sembiring; Elizabeth T. Gurning (2004). Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia: Sumatera. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan Nasional. Diakses tanggal 2026-09-13.
- 1 2 3 4 5 Sadewo, P.; B. Maftuh; E. Setiadi; D. Sundawa (2024). "Gastronomy in the Perspective of Local Wisdom of Lampung Community". Jurnal Ilmu Sosial Mamangan. 13 (2): 104â118. doi:10.22202/mamangan.v13i2.8866.
- 1 2 3 Megaria, M.; Farida Ariyani; Ulfa Dwi Nurhaya (2025). "Leksikon Nama Tempat dan Makanan Khas Lampung dalam Perspektif Morfologis". J-Simbol: Jurnal Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 13 (1): 639â655. doi:10.23960/simbol.v13i1.871.
- 1 2 3 Carolina, Hifni Septina; Winny Liliawati; Siti Sriyati (2024). "Kajian Etnosains pada Kuliner Khas Lampung Seruit: Integrasi ke dalam Konsep Biologi SMA". Jurnal Biotek. 12 (1): 1â17. doi:10.24252/jb.v12i1.47597.
- 1 2 "Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia: Gulai Balak". Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Diakses tanggal 2026-09-13.
- 1 2 Anggadhania, Lutfi; R. Haryo Bimo Setiarto; Dandy Yusuf (2023). "Exploring tempoyak, fermented durian paste, a traditional Indonesian indigenous fermented food: typical of Malay tribe". Journal of Ethnic Foods. 10 (42). doi:10.1186/s42779-023-00206-2.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) - 1 2 3 Nurdin, Bartoven Vivit; Komang Ariyanto; others (2024). "Seruit and the Construction of Lampungese in Digitalized Multicultural Urban Setting". The Journal of Society and Media. 8 (1): 104â127. doi:10.26740/jsm.v8n1.p104-127.
- â Ningrum, Fitri Cahya; Dewi Turgarini; Risya Ladiva Bridha (2021). "Pelestarian Tradisi Nyeruit Sebagai Warisan Gastronomi Kota Bandar Lampung". The Journal Gastronomy Tourism. 1 (2): 85â95. doi:10.17509/gastur.v1i2.40575.
- 1 2 3 "Seruit dan Sulam Usus Lampung Masuk Warisan Budaya Tak Benda". Pemerintah Provinsi Lampung. 2015-09-23. Diakses tanggal 2026-09-13.
- 1 2 "Gulai Taboh". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. 2015-12-17. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â "Kadis Parekraf Kunjungi Hotel Novotel Lampung". Pemerintah Provinsi Lampung. 2015-12-15. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â "Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia: Gulai Latuk-Latuk". Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â Iktarastiwi, .; Marwanti (2023). "Pendap as a Bengkulu Culinary Treasure". Mudra Jurnal Seni Budaya. 38 (2). doi:10.31091/mudra.v38i2.2052.
{{cite journal}}:|first=memiliki nama numerik - â Yuliana, Neti (2007). "Pengolahan Durian (Durio zibethinus) Fermentasi (Tempoyak)". Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian. 12 (2): 74â80. doi:10.23960/jtihp.v12i2.74-80.
- â Yuliana, Neti (2008). "Kinetika Pertumbuhan Bakteri Asam Laktat Isolat T5 yang Berasal dari Tempoyak". Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian. 13 (2): 108â116. doi:10.23960/jtihp.v13i2.108-116.
- â Dini, Fathia Zata (2026-07-22). "Mengenal Pekasom, Kuliner Khas Lampung Hasil Fermentasi Ikan". Radio Republik Indonesia. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â Latamada, Puti Ajen; Ade Moussadecq (2024). "Perancangan Buku Ilustrasi Sebagai Media Edukasi Mengenai Kue Tradisional Lampung untuk Meningkatkan Minat Anak terhadap Produk Lokal". Jurnal Visual Ideas. 4 (2): 122â132. doi:10.33197/visualideas.vol4.iss2.2024.1990.
- â "Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia: Sekubal". Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â Rostiyati, Ani (2020-05-07). "Ritual Mendirikan Rumah Adat Kampung Wana di Lampung Timur". Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â Efendi, Najwa Tsabita; Finda Hasna Azizah; Siti Komariatun Aminah; Antika Sari; Maghiza Kurnia Putri; Bunga Aulia Azzahrah; Berti Yolida; Rini Rita T. Marpaung (2026). "Analisis Etnosains dalam Proses Pembuatan Sekubal Lampung". Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang. 12 (2): 235â248. doi:10.36989/didaktik.v12i02.15902.
- â Merliza, Pika; Henry Kurniawan; Uke Ralmugiz (2022). "Eksplorasi Etnomatematika Konsep Bangun Ruang pada Kue Tradisional Lampung". Math Educa Journal. 6 (1): 1â11. doi:10.15548/mej.v6i1.3858.
- â "Kuliner Khas Lampung Saat Idul Adha, Ada Engkak hingga Gulai Taboh". detikSumbagsel. 2024-06-16. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â Merliza, Pika; Henry Kurniawan; Uke Ralmugiz (2022). "Eksplorasi Etnomatematika Konsep Bangun Ruang pada Kue Tradisional Lampung". Math Educa Journal. 6 (1): 1â11. doi:10.15548/mej.v6i1.3858.
- â Febrioza, Ifdhal (2024). Kue Tat Dika. Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â Handayani, Liska; Afifah Nurul Ramadanti; Hania Putri Zalianti; Intan Mara Claudia; Nila Oktavia; Meilinda; Berti Yolida; Rini Rita T. Marpaung (2026). "Kajian Etnosains pada Makanan Tradisional Buak Tat sebagai Sumber Belajar IPA". Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang. 12 (2): 290â305. doi:10.36989/didaktik.v12i02.15831.
- â Hakim, Ratu Marshelia; Ali Imron; Marzius Insani (2022). "Tradisi Ngejalang di Pekon Penggawa V Tengah Kecamatan Karya Penggawa Kabupaten Pesisir Barat". Journal of Social Science Education. 3 (1): 1â15. doi:10.23960/JIPS/v3i1.1-15.
- â Soepono, Sri Saadah (2004). Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia: Sumatera. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Diakses tanggal 2026-09-13.
- 1 2 Latamada, Puti Ajen; Ade Moussadecq (2024). "Perancangan Buku Ilustrasi Sebagai Media Edukasi Mengenai Kue Tradisional Lampung untuk Meningkatkan Minat Anak terhadap Produk Lokal". Jurnal Visual Ideas. 4 (2): 122â132. doi:10.33197/visualideas.vol4.iss2.2024.1990.
- â Merliza, Pika; Henry Kurniawan; Uke Ralmugiz (2022). "Eksplorasi Etnomatematika Konsep Bangun Ruang pada Kue Tradisional Lampung". Math Educa Journal. 6 (1): 1â11. doi:10.15548/mej.v6i1.3858.
- â Amelia, Amanda (2023-11-13). "Manisnya Geguduh, Camilan Khas Lampung Lengkap dengan Resep dan Cara Membuat". detikSumbagsel. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â "Rekapitulasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2013â2024". Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â SNI 01-4313-1996 Lempok Durian. Badan Standardisasi Nasional. 1996. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â "Characteristic of Lempok Quality in Bengkulu City". Jurnal Agroindustri. 5 (2): 128â133. 2015. doi:10.31186/j.agroindustri.5.2.128-133.
- â "Beberapa Makanan Khas Daerah Lampung". Universitas Medan Area. 2021-02-25. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â "Bedikekh pada Masyarakat Pekon Sukarame Kecamatan Balik Bukit Kabupaten Lampung Barat". Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah. 2018. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â Hakim, Ratu Marshelia; Ali Imron; Marzius Insani (2022). "Tradisi Ngejalang di Pekon Penggawa V Tengah Kecamatan Karya Penggawa Kabupaten Pesisir Barat". Journal of Social Science Education. 3 (1): 1â15. doi:10.23960/JIPS/v3i1.1-15.
- â Setiawan, Irvan (2020). "Tari Dibingi: Sebuah Upaya Penggalian Data Awal Tarian Tradisional yang Terancam Punah di Kabupaten Pesisir Barat Lampung". Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â Rostiyati, Ani (2020-05-07). "Ritual Mendirikan Rumah Adat Kampung Wana di Lampung Timur". Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â Kurniawan, Andi (2022). Pemetaan Pola Persebaran Wisata Kuliner Khas Lampung di Kota Bandar Lampung Tahun 2022 (Tesis). Universitas Lampung. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â Lestari, Meilani Dwi; Nur Latifah Amalia Putri; Ni Kadek Dwi Alvina Astuti; Pitrika Daniati Putri; Zahra Vina; Dea Sendianpika; Berti Yolida; Rini Rita T. Marpaung (2026). "Kajian Etnosains Pembuatan Tempoyak dalam Tradisi Nyeruit Masyarakat Lampung sebagai Sumber Belajar IPA". Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang. 12 (2): 233â246. doi:10.36989/didaktik.v12i02.14920.
- â Handayani, Liska; Afifah Nurul Ramadanti; Hania Putri Zalianti; Intan Mara Claudia; Nila Oktavia; Meilinda; Berti Yolida; Rini Rita T. Marpaung (2026). "Kajian Etnosains pada Makanan Tradisional Buak Tat sebagai Sumber Belajar IPA". Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang. 12 (2): 290â305. doi:10.36989/didaktik.v12i02.15831.
- â "Kebijakan dan Tantangan dalam Penelitian dan Pelestarian Budaya Takbenda". Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. Diakses tanggal 2026-09-13.
- â "Serial Buku: Dapur dan Warisan. Cerita Makanan Adat Lampung". Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Provinsi Lampung. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Handika, Sandi Aderama; Pipin Kusumawati; Moch. Nur Syamsu (2026). "Exploring Seruit and Its Transformation, the Heritage Culinary from Lampung Indonesia". Sabbhata Yatra. 7 (1). doi:10.53565/sabbhatayatra.v7i1.2862.
- Anggraini, Sabryna; Dela Shantiya; Rahmat Prayogi; Nurlelawati (2025). "Upaya Melestarikan Budaya Lampung Seruit sebagai Simbol Kebersamaan dalam Budaya Kuliner Lampung". Jurnal Selaksa Makna. 1 (1): 19â32. doi:10.23960/selaksamakna.v1i1.369.
- Merliza, Pika; Henry Kurniawan; Uke Ralmugiz (2022). "Eksplorasi Etnomatematika Konsep Bangun Ruang pada Kue Tradisional Lampung". Math Educa Journal. 6 (1): 1â11. doi:10.15548/mej.v6i1.3858.
- Latamada, Puti Ajen; Ade Moussadecq (2024). "Designing an Illustrated Book as an Educational Media Regarding Traditional Lampung Cakes to Increase Children's Interest in Local Products". IMAGIONARY. 3 (1): 18â26. doi:10.51353/jim.v3i1.936.
- Rosnie, Vayza Farhachita; Juitaning Mustika (2026). "Pengembangan LKPD Berbasis Etnomatematika: Konteks Kue Tradisional Lampung pada Materi Statistika". De Fermat: Jurnal Pendidikan Matematika. 9 (1): 236â244. doi:10.36277/defermat.v9i1.2449.
- Megaria, M.; Farida Ariyani; Ulfa Dwi Nurhaya (2025). "Leksikon Nama Tempat dan Makanan Khas Lampung dalam Perspektif Morfologis". J-Simbol: Jurnal Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 13 (1): 639â655. doi:10.23960/simbol.v13i1.871.
- Febrioza, Ifdhal (2024). Kue Tat Dika. Kantor Bahasa Provinsi Lampung. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Nurdin, Bartoven Vivit (2024). "Seruit and the Construction of Lampungese in Digitalized Multicultural Urban Setting". The Journal of Society and Media. 8 (1): 104â127. doi:10.26740/jsm.v8n1.p104-127.
- Yuliana, Neti (2008). "Kinetika Pertumbuhan Bakteri Asam Laktat Isolat T5 yang Berasal dari Tempoyak". Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian. 13 (2): 108â116. doi:10.23960/jtihp.v13i2.108-116.
- Mardhatillah (2015). Uji Kemampuan Bakteri Asam Laktat dari Tempoyak sebagai Pengawet Hayati Ikan Air Laut dan Ikan Air Tawar (Tesis). Universitas Lampung. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Handayani, Liska (2026). "Kajian Etnosains pada Makanan Tradisional Buak Tat sebagai Sumber Belajar IPA". Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang. 12 (2): 290â305. doi:10.36989/didaktik.v12i02.15831.
- Efendi, Najwa Tsabita (2026). "Analisis Etnosains dalam Proses Pembuatan Sekubal Lampung". Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang. 12 (2): 235â248. doi:10.36989/didaktik.v12i02.15902.
- Lestari, Meilani Dwi (2026). "Kajian Etnosains Pembuatan Tempoyak dalam Tradisi Nyeruit Masyarakat Lampung sebagai Sumber Belajar IPA". Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang. 12 (2): 233â246. doi:10.36989/didaktik.v12i02.14920.
- Ningrum, Fitri Cahya (2021). "Pelestarian Tradisi Nyeruit Sebagai Warisan Gastronomi Kota Bandar Lampung". The Journal Gastronomy Tourism. 1 (2): 85â95. doi:10.17509/gastur.v1i2.40575.
- Handayani, Liska (2026). "Kajian Etnosains pada Makanan Tradisional Buak Tat sebagai Sumber Belajar IPA". Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang. 12 (2): 290â305. doi:10.36989/didaktik.v12i02.15831.
- Kurniawan, Andi (2022). Pemetaan Pola Persebaran Wisata Kuliner Khas Lampung di Kota Bandar Lampung Tahun 2022 (Tesis). Universitas Lampung. Diakses tanggal 2026-09-13.
- "Characteristic of Lempok Quality in Bengkulu City". Jurnal Agroindustri. 5 (2): 128â133. 2015. doi:10.31186/j.agroindustri.5.2.128-133.
- Hakim, Ratu Marshelia (2022). "Tradisi Ngejalang di Pekon Penggawa V Tengah Kecamatan Karya Penggawa Kabupaten Pesisir Barat". Journal of Social Science Education. 3 (1): 1â15. doi:10.23960/JIPS/v3i1.1-15.
- Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia: Sumatera. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 2004. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia: Sumatera. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 2004. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia: Sumatera. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 2004. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia: Sumatera. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 2004. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia: Sumatera. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 2004. Diakses tanggal 2026-09-13.
- "Karya Agung Warisan Budaya Tak Benda Masyarakat Lampung Mendapatkan Sertifikat Tahun 2016". Pemerintah Provinsi Lampung. 2016-12-07. Diakses tanggal 2026-09-13.
- "Rekapitulasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2013â2024". Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 2026-09-13.
- "Kebijakan dan Tantangan dalam Penelitian dan Pelestarian Budaya Takbenda". Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. Diakses tanggal 2026-09-13.
- "Serial Buku: Dapur dan Warisan. Cerita Makanan Adat Lampung". Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Provinsi Lampung. Diakses tanggal 2026-09-13.
- "Gulai Taboh". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. 2015-12-17. Diakses tanggal 2026-09-13.
- "Kadis Parekraf Kunjungi Hotel Novotel Lampung". Pemerintah Provinsi Lampung. 2015-12-15. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Febrioza, Ifdhal (2024). Kue Tat Dika. Kantor Bahasa Provinsi Lampung. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Rostiyati, Ani (2020-05-07). "Ritual Mendirikan Rumah Adat Kampung Wana di Lampung Timur". Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Setiawan, Irvan (2020). "Tari Dibingi: Sebuah Upaya Penggalian Data Awal Tarian Tradisional yang Terancam Punah di Kabupaten Pesisir Barat Lampung". Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Iktarastiwi (2023). "Pendap as a Bengkulu Culinary Treasure". Mudra Jurnal Seni Budaya. 38 (2). doi:10.31091/mudra.v38i2.2052.
- Anggadhania, Lutfi; R. Haryo Bimo Setiarto; Dandy Yusuf (2023). "Exploring tempoyak, fermented durian paste, a traditional Indonesian indigenous fermented food: typical of Malay tribe". Journal of Ethnic Foods. 10 (42). doi:10.1186/s42779-023-00206-2.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) - Anggraini, Sabryna; Dela Shantiya; Rahmat Prayogi; Nurlelawati (2025). "Upaya Melestarikan Budaya Lampung Seruit sebagai Simbol Kebersamaan dalam Budaya Kuliner Lampung". Jurnal Selaksa Makna. 1 (1): 19â32. doi:10.23960/selaksamakna.v1i1.369.
- Handika, Sandi Aderama; Pipin Kusumawati; Moch. Nur Syamsu (2026). "Exploring Seruit and Its Transformation, the Heritage Culinary from Lampung Indonesia". Sabbhata Yatra. 7 (1). doi:10.53565/sabbhatayatra.v7i1.2862.
- "Bedikekh pada Masyarakat Pekon Sukarame Kecamatan Balik Bukit Kabupaten Lampung Barat". Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah. 2018. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Dini, Fathia Zata (2026-07-22). "Mengenal Pekasom, Kuliner Khas Lampung Hasil Fermentasi Ikan". Radio Republik Indonesia. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Agustinasari, Dewi (2025-02-01). "Kue Tradisional Engkak, Makanan Khas Lampung". Radio Republik Indonesia. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Amelia, Amanda. "Manisnya Geguduh, Camilan Khas Lampung Lengkap dengan Resep dan Cara Membuat". detikSumbagsel. Diakses tanggal 2026-09-13.
- "Beberapa Makanan Khas Daerah Lampung". Universitas Medan Area. 2021-02-25. Diakses tanggal 2026-09-13.
- "SNI 01-4313-1996 Lempok Durian". Badan Standardisasi Nasional. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Carolina, Hifni Septina; Winny Liliawati; Siti Sriyati (2024). "Kajian Etnosains pada Kuliner Khas Lampung Seruit: Integrasi dengan Konsep Biologi SMA". Jurnal Biotek. 12 (1): 1â17. doi:10.24252/jb.v12i1.47597.
- Sadewo, P.; B. Maftuh; E. Setiadi; D. Sundawa (2024). "Gastronomy in the Perspective of Local Wisdom of Lampung Community". Jurnal Ilmu Sosial Mamangan. 13 (2): 104â118. doi:10.22202/mamangan.v13i2.8866.
- Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia: Sumatera. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 2004. Diakses tanggal 2026-09-13.
- Fitriani, R.; A. T. Nugraha (2024). "Analisis Pengaruh Material Kemasan, Tampilan Kemasan, Bentuk Kemasan, dan Informasi pada Kemasan terhadap Minat Beli Makanan Khas Lampung Keripik Pisang". Jurnal Ilmiah Teknik Industri. 12 (1): 33â40. doi:10.24912/jitiuntar.v12i1.29047.
- Kurniawan, Andi (2022). Pemetaan Pola Persebaran Wisata Kuliner Khas Lampung di Kota Bandar Lampung Tahun 2022 (Tesis). Universitas Lampung. Diakses tanggal 2026-09-13.
<ref> dengan nama "Seruit2026" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "SeruitPreserve" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "KueLampungMath" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "KueTradisionalVisual" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "KueTradisionalStatistika" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "Leksikon2" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "BuakTatBook" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "NyeruitCommensality" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "TempoyakLactic" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "TempoyakFish" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "BuakTat2026" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "Sekubal2026" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "Tempoyak2026" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "GastronomyGeneral" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "BuakTatResearch" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "LampungCulinaryMap" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "LempokBengkulu" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "Ngejalang2" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "BebaiEns" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "GulaiBalak" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "GulaiLatuk" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "SekubalBook" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "TempoyakBook" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "WBTB2015Gov" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "WBTBList" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "WBTBPolicy" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "DapurWarisan" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "TabohGov" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "NovotelLampung" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "KueTatOfficial" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "SekubalRitual" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "PesisirFood" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "PendapAcademic" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "TempoyakReview2" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "SeruitPreserve2" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "SeruitTransformation" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "KopiContext" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "PekasomRRI" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "EngkakRRI" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "GeguduhDetik" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "GabingUMA" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "LempokSNI" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "SeruitEtnosains2" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "GastronomyLampung2" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "EnsiklopediFull" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "FoodPackagingLampung" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref> dengan nama "LampungFoodMapping" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.