Lompat ke isi

Pīti

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pīti (Pali; Sanskerta: प्रीति, prīti), diterjemahkan sebagai kegembiraan, kegiuran, rasa puas, atau sukacita,[a] adalah sebuah faktor mental[b] terkait dengan penyerapan meditatif (Sanskerta: dhyana; Pali: jhāna) dari meditasi Buddhis. Menurut Buddhadasa Bhikkhu, pīti adalah sebuah kualitas merangsang, menggairahkan, dan memberi energi, yang berbeda dari ketenangan sukha.[1]

Penafsiran Theravāda

[sunting | sunting sumber]

Pīti adalah sebuah saṅkhāra (formasi) penuh riang gembira yang tidak berkaitan dengan objek apa pun, sehingga praktisi tidak mencapainya melalui nafsu-keinginan. Istilah ini sering diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai "rapture" (kegiuran) dan dibedakan dari "kebahagiaan" atau "kesenangan" meditatif yang bertahan lebih lama (Pali, Sanskerta: sukha), yang merupakan perasaan (vedanā) lebih halus yang muncul bersamaan dengan pīti.

Kitab kanonis

[sunting | sunting sumber]

Dalam diskursus Suttapiṭaka, pīti merujuk pada kegiuran, sukacita, atau kegembiraan batin yang menggugah. Sebagai pengalaman batin yang tidak bergantung pada rangsangan lima indra (kāmaguṇa), pīti dideskripsikan muncul secara murni dari pelepasan (nekkhamma) atau konsentrasi yang mendalam (samādhi).[2] Dalam kerangka doktrinal, pīti memiliki peranan krusial baik sebagai salah satu faktor pencerahan (bojjhaṅga) maupun sebagai faktor pembentuk pencapaian meditasi tingkat lanjut (jhāna).[3]

Klasifikasi

[sunting | sunting sumber]

Dalam Nirāmisa Sutta (SN 36.31), Buddha Gotama menganalisis dan mengategorikan pīti secara taksonomis menjadi tiga tingkatan berdasarkan objek dan kebersihannya dari noda duniawi:[4]

  • Sāmisa pīti: Kegiuran yang bersifat duniawi, yang kemunculannya bergantung pada lima tali kesenangan indrawi (kāmaguṇa).
  • Nirāmisa pīti: Kegiuran non-duniawi atau spiritual. Kegiuran ini lahir dari pencapaian jhāna pertama dan kedua, sepenuhnya terlepas dari nafsu indrawi.
  • Nirāmisatarā pīti: Kegiuran yang melampaui kondisi non-duniawi, dialami secara khusus oleh seseorang yang telah memusnahkan noda batin (seorang arahā) ketika ia meninjau batinnya yang telah terbebas dari keserakahan, kebencian, dan delusi.

Peranan dalam jhāna

[sunting | sunting sumber]
Tabel: Faktor-faktor rūpa jhāna
Faktor jhāna (jhānaṅga)Jhāna
pertama
Jhāna
kedua
Jhāna
ketiga
Jhāna
keempat
Vitakka
(penempatan awal)
✓
(terasing dari kāma dan akusala-dhammā)
✗ — —
Vicāra
(penempatan sinambung)
Pīti
(kegembiraan)
✓
(lahir dari
viveka)
✓
(lahir dari
samādhi;
sampasādana internal)
✗ —
Sukha
(kebahagiaan)
✓
(mengalami dengan kāya)
✗
(adukkhamasukhaṁ upekkhā-sati-pārisuddhi)
Ekaggatā
(kemanunggalan,
keterpusatan)
✓ ✓ ✓ ✓
(sati-pārisuddhi-citt-ekaggatā)

Fenomenologi mengenai bagaimana pīti dialami secara jasmaniah dijabarkan melalui perumpamaan standar dalam diskursus suttanta. Sāmaññaphala Sutta (DN 2) memberikan perumpamaan visual yang presisi mengenai meresapnya pīti ke dalam tubuh jasmani (kāya) pada saat bermeditasi:[5]

  • Jhāna pertama: Pīti dan sukha yang lahir dari pengasingan diri dari hal-hal duniawi (vivekaja pītisukha). Sutta mengumpamakannya seperti seorang pembuat sabun yang meremas bubuk mandi dengan air, yang kelembapannya meresap ke seluruh gumpalan tanpa ada yang bocor keluar.
  • Jhāna kedua: Pīti dan sukha yang lahir dari konsentrasi penuh (samādhija pītisukha) karena berhentinya vitakka dan vicāra. Kondisi ini diumpamakan seperti mata air dingin yang menyembur langsung dari dasar danau yang dalam, meresapi seluruh air danau tersebut tanpa adanya aliran air dari luar.[6]

Dalam kerangka praktik perhatian-penuh pada napas, sebagaimana diuraikan dalam Ānāpānasati Sutta (MN 118), pīti menjadi objek pengamatan yang spesifik pada daftar kelompok-empat yang kedua. Praktisi dilatih untuk menyadari muncul dan tenggelamnya pīti saat ia menarik dan menghembuskan napas.[3]

Sebagai faktor pencerahan

[sunting | sunting sumber]

Sebagai pītisambojjhaṅga, kegiuran adalah bagian integral dari Tujuh Faktor Pencerahan. Aggi Sutta (SN 46.53) menguraikan pentingnya penerapan faktor ini pada momentum yang tepat. Sang Buddha mengajarkan bahwa ketika batin sedang lesu atau lamban (līna), seseorang sepatutnya membangkitkan kegiuran guna menstimulasi batin, alih-alih mengembangkannya saat batin sedang gelisah (uddhata).[2] Lebih lanjut, Āhāra Sutta (SN 46.51) menjelaskan bahwa asupan atau kondisi yang menunjang (āhāra) untuk memunculkan dan menyempurnakan pīti adalah dengan menerapkan perhatian yang bijaksana (yoniso manasikāra) terhadap hal-hal yang menjadi landasan bagi munculnya faktor pencerahan tersebut.[7]

Kitab komentar dan risalah

[sunting | sunting sumber]

Penangkal lima rintangan

[sunting | sunting sumber]

Dalam kitab-kitab komentar (tafsir) mengenai meditasi Buddhis, pengembangan jhāna (Sanskerta: dhyāna) dideskripsikan sebagai pengembangan lima faktor mental (cetasika) yang melawan lima rintangan batin (nīvaraṇa):[c]

  1. vitakka ("penempatan-awal pikiran") melawan kemalasan dan kelambanan/kantuk (thīna-middha)
  2. vicāra ("penempatan-sinambung pikiran") melawan keragu-raguan (vicikicchā)
  3. pīti (kegiuran) melawan niat buruk (byāpāda)
  4. sukha ("kebahagiaan non-indrawi") melawan kegelisahan/kebingungan dan kekhawatiran/penyesalan (uddhacca-kukkucca)
  5. ekaggatā ("keterpusatan/kemanunggalan pikiran") melawan keinginan indrawi (kāmacchanda)

Baik pīti maupun sukha lahir dari keterasingan jasmani dan keheningan mental pada jhāna pertama, kemudian lahir dari konsentrasi yang terpusat (samādhi) pada jhāna kedua, tapi hanya sukha yang dipertahankan pada jhāna ketiga sementara pīti memudar seiring dengan pengolahan keseimbangan/ketidakberpihakan batin yang murni dan penuh-perhatian (upekkhāsatipārisuddhi).

Perbedaan pīti dan sukha

[sunting | sunting sumber]

Kitab Visuddhimagga dari abad ke-5 M membedakan antara pīti dan sukha melalui gambaran pengalaman berikut:

Dan di mana pun keduanya berkaitan, pīti [happiness dalam terjemahan Ñāṇamoli] adalah kepuasan saat mendapatkan objek yang diinginkan, dan kebahagiaan [sukha] adalah pengalaman aktual atas objek tersebut ketika didapatkan. Di mana ada pīti, di situ ada kebahagiaan (kesenangan) [sukha]; tetapi di mana ada kebahagiaan [sukha] belum tentu ada pīti. Kegembiraan termasuk ke dalam gugusan formasi (saṅkhārakkhandha); kebahagiaan termasuk ke dalam gugusan perasaan (vedanākkhandha). Jika seseorang yang kelelahan di padang pasir melihat atau mendengar tentang sebuah kolam di tepi hutan, ia akan memiliki pīti; jika ia pergi ke tempat teduh di hutan itu dan menggunakan airnya, ia akan memiliki kebahagiaan (sukha)....[9][d]
Tabel Hubungan Nāmarūpa, Pañcakkhandha, dan Abhidhamma
Kelompok Pañcakkhandha
(lima gugusan)
Abhidhamma Theravāda
Paramattha-sacca
(realitas hakiki)
nāma
(batin)
viññāṇakkhandha
(gugusan kesadaran)
89/121 citta
(kesadaran)
81 duniawi
8/40 adiduniawi
vedanākkhandha
(gugusan perasaan)
52 cetasika
(faktor-mental)
1 vedanācetasika
(cetasika perasaan)
saññākkhandha
(gugusan persepsi)
1 saññācetasika
(cetasika persepsi)
saṅkhārakkhandha
(gugusan formasi)
50 cetasika lainnya
rūpa
(rupa)
rūpakkhandha
(gugusan rupa)
28 rūpa
(rupa)
4 unsur pokok
24 unsur turunan
-
Nibbāna
(Nirwana)
Catatan:
  • Kelompok dhamma adalah saṅkhāra dan Nibbāna.
  • Seluruh saṅkhāra bersifat anicca dan dukkha.
  • Seluruh dhamma bersifat anatta.
  • Bedakan konteks saṅkhāra dengan saṅkhārakkhandha.

Tradisi Abhidhamma

[sunting | sunting sumber]

Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa pīti didefinisikan dalam empat batasan:[11]

  • Karakteristik: kepuasan (sampiyāyanalakkhaṇa).
  • Fungsi: untuk menyegarkan batin-dan-tubuh (kāyacittapīṇanarasā) atau mengembang/menyebar (pharaṇarasā).
  • Manifestasi: kegembiraan yang meluap (odagyapaccupaṭṭhāna).
  • Sebab-terdekat: batin-dan-jasmani (nāmarūpa).

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa:[11]

Kegembiraan (pīti) adalah faktor-mental yang membuat batin senang dan puas dengan objeknya. Kata lain dari kegembiraan (pīti) yang mempunyai makna sama adalah kegirangan (pāmojja) dan bersukacita (āmodanā). Dengan demikian, faktor-mental kegembiraan mengandung aspek emosional dalam intensitas tertentu. Kualitas rendah kegembiraan muncul pada saat seseorang tertawa terbahak-bahak. Kegembiraan yang seperti itu bersifat duniawi dan berkaitan dengan pancaindra. Dalam kualitasnya yang sempurna, kegembiraan menjadi faktor jhāna yang membuat batin puas dan mampu bersama dengan tanda-serupa (paṭibhāga nimitta) untuk jangka waktu berjam-jam tanpa berminat untuk “berpaling” ke objek-objek yang lain.

Kegembiraan jenis ini bersifat spiritual dan sudah terbebas dari dunia pancaindra (nirāmisā pīti). Teks-teks kita membedakan kegembiraan menjadi lima. Akan tetapi, hanya kegembiraan yang meresap ke seluruh tubuh (pharaṇapīti) yang disebut sebagai faktor jhāna. Pada saat menjadi akar dari absorpsi (jhāna), kegembiraan yang meresap mencapai perkembangannya melalui percampurannya dengan konsentrasi.

Penafsiran Mahāyāna

[sunting | sunting sumber]

Dalam tradisi Mahāyāna, istilah Sanskerta prīti (kegiuran atau kegembiraan) juga memiliki peran penting, baik sebagai bagian dari faktor pencerahan maupun tahapan meditasi, dengan konteks spesifik sesuai literatur masing-masing.

Mahāprajñāpāramitāśāstra

[sunting | sunting sumber]

Menurut risalah Mahāprajñāpāramitāśāstra dari abad ke-2 M (Bab XXXI), prīti diidentifikasi sebagai salah satu dari sepuluh unsur pokok (dravya) yang membentuk tiga puluh tujuh faktor pendukung pencerahan (bodhipākṣika). Secara spesifik, teks tersebut menegaskan bahwa unsur sukacita ini bertindak sebagai pembentuk faktor-pencerahan kegiuran itu sendiri (prīti-saṃbodhyaṅga).[12]

Gaganagañjaparipṛcchā

[sunting | sunting sumber]

Di luar konteks meditasi yang sistematis, istilah prīti juga digunakan dalam literatur sutra untuk mendeskripsikan kondisi emosi yang meluap-luap. Dalam sutra Gaganagañjaparipṛcchā (bab kedelapan dari koleksi sutra Mahāsaṃnipāta), istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi Māra yang jahat ketika ia merasa "puas, bangga, terpesona, sangat gembira, bersorak-sorai (prīti), dan bersukaria" setelah mendengar suatu perkataan, sebelum ia menari dan beranjak meninggalkan persamuan.[13]

Guhyasamāja Tantra

[sunting | sunting sumber]

Dalam kerangka Buddhisme Tibet atau tradisi Vajrayāna, prīti ditempatkan dalam praktik esoterik atau tantra. Menurut teks Guhyasamāja Tantra bab ke-18, prīti (kegembiraan) diklasifikasikan sebagai salah satu dari lima jenis dhyāna (meditasi). Meditasi ini merupakan salah satu dari enam anggota Yoga yang dipraktikkan dalam pemujaan tertinggi (uttamasevā). Dalam konteks doktrinal ini, dhyāna dijelaskan sebagai pembentukan konsep atas lima objek yang didambakan melalui Lima Buddha Dhyani, dan klasifikasi meditasi tersebut disubdivisikan menjadi lima jenis, dengan prīti adalah salah satunya.[14]

  1. ↑ Bedakan dari konteks vedanā, suatu perasaan/sensasi yang salah satu jenisnya (sukha-vedanā) juga mungkin diterjemahkan sebagai "perasaan sukacita".
  2. ↑ Salah satu elemen, keadaan, atau pengaruh yang berkontribusi untuk menghasilkan suatu hasil.
  3. ↑ Lihat, misalnya, Samādhaṅga Sutta (alias, Pañcaṅgikasamādhi Sutta, AN 5.28).[8]
  4. ↑ Vsm IV.100. Lihat juga komentar Abhidhamma, Atthasālinī.[10]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ↑ Buddhadasa 1988, hlm. 69.
  2. 1 2 Bodhi 2000, hlm. 1598.
  3. 1 2 Ñāṇamoli & Bodhi 2001, hlm. 944.
  4. ↑ Bodhi 2000, hlm. 1274.
  5. ↑ Walshe 1995, hlm. 102.
  6. ↑ Walshe 1995, hlm. 103.
  7. ↑ Bodhi 2000, hlm. 1597.
  8. ↑ Thanissaro 1997.
  9. ↑ Ñāṇamoli 1999, hlm. 142.
  10. ↑ Bodhi 1980.
  11. 1 2 Kheminda 2019, hlm. 65–66.
  12. ↑ Wisdom Library, Subjudul "Mahayana", Maha Prajnaparamita Sastra.
  13. ↑ Wisdom Library, Subjudul "Mahayana", A Study and Translation of the Gaganagañjaparipṛcchā.
  14. ↑ Wisdom Library, Subjudul "Tibetan Buddhism", The Indian Buddhist Iconography.

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]

Sumber buku

[sunting | sunting sumber]
  • Bodhi, Bhikkhu (1980). Transcendental Dependent Arising: A Translation and Exposition of the Upanisa Sutta. The Wheel. Vol. 277/278. Kandy: Buddhist Publication Society. Diakses tanggal 2008-05-08.
  • Bodhi, Bhikkhu (2000). The Connected Discourses of the Buddha: A Translation of the Saṃyutta Nikāya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-331-1.
  • Buddhadasa, Bhikkhu (1988). Mindfulness With Breathing: A Manual for Serious Beginners. Diterjemahkan oleh Santikaro, Bhikkhu.
  • Kheminda, Ashin (2019-09-01). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. ISBN 978-623-94342-7-4.
  • Ñāṇamoli, Bhikkhu (1999). The Path of Purification: Visuddhimagga. Seattle, WA: BPS Pariyatti Editions. ISBN 1-928706-00-2.
  • Ñāṇamoli, Bhikkhu; Bodhi, Bhikkhu (2001). The Middle Length Discourses of the Buddha: A Translation of the Majjhima Nikāya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-072-X.
  • Walshe, Maurice (1995). The Long Discourses of the Buddha: A Translation of the Dīgha Nikāya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-103-3.

Sumber web

[sunting | sunting sumber]