Lompat ke isi

Arsitektur Buddhis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perbedaan gaya arsitektur kuil Buddha di Asia dari kiri ke kanan: Sanchi Stupa di Madhya Pradesh, India, Borobudur di Jawa Tengah, Indonesia, Ninna-ji di Kyoto, Jepang, dan Wat Suthat di Bangkok, Thailand.

Arsitektur Buddha adalah gaya arsitektur yang mengikuti filosofi dan praktik keagamaan Buddhisme. Asal-usul Buddhisme bermula pada abad ke-5 SM di anak benua India. Bentuk-bentuk arsitektur Buddha dikembangkan untuk memenuhi fungsi monastik, ritual, dan peringatan.[1] Ciri khas seperti stupa, vihāra (biara), dan chaitya (balai doa) sering ditemukan dalam kuil Buddha.

Ketika Buddhisme menyebar ke seluruh Asia Selatan dan wilayah di luarnya, tradisi arsitekturnya ikut berkembang dan menjadi semakin beragam, sehingga melahirkan berbagai adaptasi regional di Asia Tenggara dan Asia Timur. Sejumlah pendapat menyatakan bahwa beberapa ciri gaya dalam arsitektur Buddha, khususnya stupa, mungkin dipengaruhi oleh unsur-unsur arsitektur Hindu, seperti shikhara.[2] Seiring waktu, bentuk-bentuk tersebut berkembang menjadi pagoda, sebuah unsur arsitektur khas yang dapat ditemukan di seluruh Indosfer dan Asia Timur.[3][4]

Perkembangan awal di India

[sunting | sunting sumber]
Stupa Relik Vaishali di Bihar, India yang kemungkinan merupakan stupa tertua yang diketahui secara arkeologis
Stupa Agung di Sanchi

Tiga jenis bangunan dikaitkan dengan gaya arsitektur Buddhisme awal: biara (vihara), tempat pemujaan relik (stupa), dan tempat suci atau balai doa (chaitya, yang juga disebut chaitya griha), yang kemudian di beberapa tempat dikenal sebagai kuil.

Salah satu perkembangan khas baru di situs-situs keagamaan Buddha adalah stupa. Fungsi awal stupa adalah sebagai tempat pemujaan dan penyimpanan relik Gautama Buddha. Contoh stupa paling awal yang diketahui secara arkeologis adalah Stupa Relik Vaishali yang terletak di Bihar, India.[5][6] Seiring perubahan dalam praktik keagamaan, stupa secara bertahap dimasukkan ke dalam chaitya-griha (balai doa). Hal ini dapat dilihat pada kompleks Gua Ajanta dan Gua Ellora. Kuil Mahabodhi di Bodh Gaya di Bihar, India merupakan contoh terkenal lainnya.

Salah satu situs Buddha paling awal yang masih bertahan hingga kini berada di Sanchi, India, yang berpusat pada sebuah stupa yang diyakini dibangun oleh Raja Ashoka (273–236 SM). Struktur aslinya yang sederhana kemudian diselubungi bangunan yang lebih baru dan lebih dekoratif, dan selama dua abad seluruh situs tersebut terus dikembangkan. Empat arah mata angin ditandai dengan gerbang batu yang rumit.

Seperti halnya seni Buddha, arsitektur Buddha mengikuti penyebaran Buddhisme ke seluruh Asia Selatan dan Asia Timur, dan model-model awal India menjadi acuan utama, meskipun Buddhisme sendiri hampir menghilang dari India pada abad ke-10.

Dekorasi situs-situs Buddha menjadi semakin rumit selama dua abad terakhir SM, dengan munculnya panel dan relief, termasuk figur manusia, terutama pada stupa. Namun, Buddha belum digambarkan dalam bentuk manusia hingga abad ke-1 M. Sebagai gantinya, digunakan simbol-simbol anikonik. Hal ini dibahas lebih rinci dalam seni Buddha, fase anikonik. Perkembangan tersebut memengaruhi pembangunan kuil, yang dalam banyak kasus kemudian menjadi latar bagi arca Buddha.

Ketika Buddhisme menyebar, arsitektur Buddha berkembang ke dalam berbagai gaya yang berbeda, mencerminkan kecenderungan serupa dalam seni Buddha. Bentuk bangunannya juga sampai batas tertentu dipengaruhi oleh berbagai aliran Buddhisme di negara-negara utara yang terutama menganut Buddhisme Mahayana, dan di wilayah selatan tempat Buddhisme Theravada berkembang.

Arsitektur Buddha regional

[sunting | sunting sumber]
Balairung Mahawira dari Kuil Chongyuan di Suzhou.

Ketika Buddhisme masuk ke Tiongkok, arsitektur Buddha turut dibawa bersamanya. Banyak biara dibangun, jumlahnya mencapai sekitar 45.000. Biara-biara tersebut dipenuhi contoh arsitektur Buddha, sehingga menempati posisi yang sangat penting dalam arsitektur Tiongkok. Salah satu contoh tertua yang masih bertahan adalah pagoda bata di Biara Songyue di Dengfeng.

Indonesia

[sunting | sunting sumber]
Borobudur, kuil Buddha Mahayana abad ke-9 di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Kuil ini dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha.
Candi Muara Takus, kuil Buddha abad ke-11 di Sumatra.

Buddhisme dan Hinduisme mencapai kepulauan Indonesia pada awal milenium pertama. Struktur candi tertua yang masih bertahan di Jawa adalah Candi Batujaya di Karawang, Jawa Barat, yang diperkirakan berasal dari abad ke-5.[7] Candi tersebut merupakan situs Buddha, sebagaimana dibuktikan oleh ditemukannya tablet votif Buddha dan struktur stupa dari bata.

Puncak perkembangan seni dan arsitektur Buddha Indonesia kuno terjadi pada masa Dinasti Syailendra di Jawa yang memerintah Kerajaan Mataram di Jawa Tengah sekitar abad ke-8 hingga ke-9 M. Contoh paling menonjol adalah Borobudur abad ke-9, sebuah stupa raksasa berbentuk piramida berundak yang dirancang mengikuti pola mandala batu. Dinding dan pagar langkannya dihiasi relief bas yang indah, dengan luas keseluruhan mencapai 2.500 meter persegi. Di sekeliling pelataran bundar terdapat 72 stupa berlubang, masing-masing berisi arca Buddha.[8] Borobudur diakui sebagai kuil Buddha terbesar di dunia.[9]

Wat Phra Kaew, Bangkok, Thailand

Di Thailand, kuil Buddha dikenal sebagai wat, dari bahasa Pāḷi vāṭa, yang berarti "lingkungan berpagar". Sebuah wat biasanya terdiri atas dua bagian: Phutthawat (area pemujaan yang dipersembahkan bagi Buddha) dan Sangkhawat (biara yang diperuntukkan bagi Sangha).

Kuil Buddha Thailand biasanya memiliki chedi berwarna emas berbentuk menara stupa lonceng yang dilapisi daun emas, serta berisi ruang relik. Ciri khas lainnya adalah menara prang di bagian tengah atas bangunan kuil Buddha. Kuil Buddha Thailand terdiri atas beberapa bangunan, termasuk Ubosot (balai penahbisan), wihan (vihara), Mondop (mandapa), Ho trai (perpustakaan), dan sala (pendopo terbuka), ho rakhang (menara lonceng), serta bangunan penunjang lainnya.

Semua struktur kuil tersebut menampilkan atap bertingkat. Penggunaan tingkatan atap berhias biasanya diperuntukkan bagi atap kuil, istana, dan bangunan penting. Dua atau tiga tingkat paling umum digunakan, tetapi beberapa kuil kerajaan memiliki empat tingkat.

Negoro-ji di Iwade, Prefektur Wakayama, Jepang.

Setelah Buddhisme tiba dari daratan Asia melalui Tiga Kerajaan Korea pada abad ke-6, pada awalnya dilakukan upaya untuk meniru bangunan aslinya seakurat mungkin, tetapi lambat laun berkembang versi lokal dari gaya kontinental tersebut, baik untuk menyesuaikan selera Jepang maupun untuk mengatasi masalah iklim setempat yang lebih lembap dan lebih banyak hujan dibandingkan Tiongkok.[10] Sekte Buddha pertama adalah enam Nanto Rokushū (南都六宗, enam sekte Nara) di Nara,[a] kemudian pada periode Heian disusul oleh Shingon dan Tendai di Kyoto. Setelah itu, pada periode Kamakura, lahirlah Jōdo dan sekte asli Jepang Nichiren-shū di Kamakura. Pada waktu yang hampir bersamaan, Buddhisme Zen datang dari Tiongkok dan sangat memengaruhi semua sekte lainnya dalam berbagai aspek, termasuk arsitektur.[11]

Secara gaya, kuil Buddha dan kuil Shinto memiliki karakteristik yang sama dalam filosofi Jepang Shinbutsu-shūgō (神仏習合). Namun, selama Restorasi Meiji, Kaisar Meiji menetapkan Shinbutsu bunri (神仏分離), yaitu pemisahan antara agama asli Jepang Shinto dan Buddhisme. Dahulu, sangat umum sebuah kuil Buddha dibangun di dalam atau di samping kuil Shinto, atau sebuah kuil Shinto memiliki sub-kuil Buddha. Jika sebuah kuil Shinto memiliki kuil Buddha, tempat tersebut disebut jingū-ji (神宮寺, harfiah: kuil tempat suci). Demikian pula, kuil-kuil di seluruh Jepang dahulu mengadopsi kami pelindung (chinju (鎮守/鎮主). Setelah pemisahan paksa antara kuil Buddha dan kuil Shinto yang diperintahkan pemerintah baru, hubungan antara kedua agama itu secara resmi diputus, meskipun secara budaya kurang diterima karena praktik Shinbutsu-shūgō tetap berlangsung dan masih dapat terlihat hingga sekarang.

  1. ↑ Enam sekte tersebut adalah Sanron-, Jōjitsu-, Hossō-, Kusha-, Ritsu-, dan Kegon-shū.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ↑ mondial, UNESCO Centre du patrimoine. "Buddhist Meditation Monasteries of Ancient Sri Lanka". UNESCO Centre du patrimoine mondial (dalam bahasa Prancis). Diakses tanggal 2025-11-03.
  2. ↑ Dokras, Dr Uday (2021-01-01). "Topology of STUPA Borobudur, Indian and Sri Lankan". Indo Nordic Author's Collective.
  3. ↑ Harle, James Coffin (1994). The art and architecture of the Indian subcontinent (dalam bahasa Inggris) (Edisi 2nd). New Haven London: Yale University Press. hlm. 201. ISBN 978-0-300-06217-5.
  4. ↑ Michell, George (1990). The Penguin guide to the monument of India. The Penguin guide to the monument of India. London: Penguin book. hlm. 228–229. ISBN 978-0-14-008144-2.
  5. ↑ Fogelin, Lars (2015). An Archaeological History of Indian Buddhism. Oxford University Press. hlm. 85. ISBN 9780199948239.
  6. ↑ Lahiri, Nayanjot (2015). Ashoka in Ancient India. Harvard University Press. hlm. 246–247. ISBN 9780674057777.
  7. ↑ "Batujaya Temple (West Java) - Temples of Indonesia". candi.perpusnas.go.id. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-02. Diakses tanggal 2020-08-09.
  8. ↑ "Borobudur Temple Compounds". UNESCO World Heritage Centre (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-05-30. Diakses tanggal 2020-08-09.
  9. ↑ "Largest Buddhist temple". Guinness World Records (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-07-20. Diakses tanggal 2020-08-09.
  10. ↑ Fletcher & Cruickshank 1996, hlm. 716
  11. ↑ Fujita & Koga 2008, hlm. 50–51
  • Fletcher, Sir Banister; Cruickshank, Dan (1996) [1896]. Sir Banister Fletcher's a history of architecture (Edisi 20th illustrated). Architectural Press. ISBN 0-7506-2267-9. Diakses tanggal 2009-11-11. {{cite book}}: |author1= and |last1= ditentukan lebih dari satu kali; |author2= and |last2= ditentukan lebih dari satu kali
  • Fujita Masaya, Koga Shūsaku, ed. (April 10, 1990). Nihon Kenchiku-shi (dalam bahasa Jepang) (Edisi September 30, 2008). Shōwa-dō. ISBN 4-8122-9805-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)