Lompat ke isi

Syamsuddin As-Sumatrani

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Syamsuddin as-Sumatrani
شمس الدين بن عبد الله السمطراني
Lahirabad ke-16[a]
tidak diketahui; secara tradisional dikaitkan dengan Pasai, Aceh
Meninggal12 Rajab 1039 H
25 Februari 1630
tidak diketahui[b]
Tempat peristirahatan terakhir
Sebuah makam di Kampung Ketek, Melaka, secara tradisional diidentifikasi sebagai makamnya
Nama lainSyamsuddin Pasai
Shams al-Din al-Sumatra'i
Shams al-Din al-Samatra'i
PekerjaanUlama, Sufi, penulis dan penasihat keagamaan istana
Dikenal karenaPemikiran wujudiyyah, pengembangan ajaran Martabat Tujuh, karya-karya tasawuf Melayu dan Arab, serta peranannya di lingkungan istana Kesultanan Aceh
AyahAbdullah

Syamsuddin bin Abdullah as-Sumatrani (bahasa Arab: شمس الدين بن عبد الله السمطراني; juga ditulis Syamsuddin al-Sumatrani, Syamsuddin as-Sumatra'i, Shams al-Din al-Samatra'i, atau Syamsuddin Pasai; wafat 12 Rajab 1039 H/25 Februari 1630) adalah seorang ulama, pemikir tasawuf, penulis, dan tokoh agama istana Kesultanan Aceh pada penghujung abad ke-16 dan awal abad ke-17. Ia merupakan salah seorang pemikir Melayu-Islam terpenting sebelum Abdurrauf Singkili dan dikenal terutama sebagai penerus serta pengembang tradisi metafisika Hamzah Fansuri, khususnya pemikiran yang dalam historiografi kemudian disebut wujudiyyah atau wahdat al-wujud.[1][2]

Syamsuddin muncul dalam sumber Melayu dan Eropa sebagai salah seorang ulama paling terkemuka di lingkungan istana Aceh pada masa Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil dan Iskandar Muda. Sir James Lancaster, yang berunding dengan istana Aceh pada 1602, mencatat seorang "chiefe bishope of the realme" yang sangat dihormati raja dan rakyat dan mahir berunding dalam bahasa Arab. Tokoh tersebut lazim diidentifikasi oleh sejumlah sejarawan sebagai Syamsuddin, meskipun Lancaster sendiri tidak menyebut namanya.[3][4]

Dalam historiografi Indonesia, Syamsuddin sering diberi gelar Syekh al-Islam, mufti, atau bahkan Qadi Malik al-Adil dan digambarkan sebagai tokoh kedua setelah sultan. Akan tetapi, penelitian Henri Chambert-Loir menunjukkan bahwa sumber Melayu sezaman tidak cukup untuk memastikan jabatan administratif atau yudisial tersebut. Yang dapat dipastikan adalah bahwa Syamsuddin mempunyai kedudukan keagamaan yang sangat tinggi, terlibat dalam upacara istana, berhubungan dengan tamu luar negeri, dan kemungkinan berperan sebagai penasihat agama serta perantara diplomatik.[4]

Dalam sejarah pemikiran Islam, Syamsuddin terkenal karena mengembangkan skema Martabat Tujuh: aḥadiyyah, waḥdah, wāḥidiyyah, alam arwah, alam mitsal, alam ajsam, dan alam insan. Formulasi tersebut berhubungan erat dengan tradisi Ibnu Arabi, Abdul Karim al-Jili, dan terutama al-Tuḥfah al-Mursalah ilā Rūḥ al-Nabī karya Muhammad Fadlullah al-Burhanpuri. Namun penelitian terhadap Ḥaqq al-Yaqīn fī ʿAqīdat al-Muḥaqqiqīn menunjukkan bahwa Syamsuddin tidak sekadar menyalin gagasan pendahulunya, melainkan melakukan sintesis sendiri terhadap sumber Arab dan Persia.[2]

Sesudah wafatnya, ajaran Syamsuddin menjadi sasaran polemik keras Nuruddin ar-Raniri. Pada masa Iskandar Thani, sebagian pengikut wujudiyyah diperintahkan bertobat, karya-karya Hamzah Fansuri dan Syamsuddin dibakar, dan sebagian penganut yang menolak meninggalkan keyakinannya dihukum. Karena Syamsuddin telah meninggal tujuh tahun sebelum al-Raniri memperoleh kedudukan dominan di Aceh, polemik keduanya merupakan polemik tekstual dan posthumus, bukan perselisihan pribadi antara dua ulama yang pernah berhadapan langsung.[4]

Nama dan nisbah

[sunting | sunting sumber]

Nama yang muncul dalam literatur akademik adalah:

شمس الدين بن عبد الله السمطراني
Shams al-Dīn ibn ʿAbd Allāh al-Sumaṭrānī.

Variasi transliterasinya antara lain:

  • Syamsuddin as-Sumatrani;
  • Syamsuddin al-Sumatrani;
  • Syamsuddin as-Sumatra'i;
  • Syamsuddin al-Samatra'i;
  • Shams al-Din al-Sumatra'i; dan
  • Shams al-Din al-Samatra'i.

C.A.O. van Nieuwenhuijze menggunakan sebutan Samsu'l-Din van Pasai dalam monografnya tahun 1945.[1]

Karena itu, Syamsuddin juga sering dikenal sebagai Syamsuddin Pasai.

Nisbah al-Sumatrani secara harfiah hanya menghubungkannya dengan Sumatra yakni Sumatra Pasai yang menisbahkannya ke Samudera Pasai. Hubungan dengan Pasai berasal dari tradisi historiografi dan penamaan kemudian. Tempat lahirnya secara pasti tidak diketahui.

Kelahiran dan asal-usul

[sunting | sunting sumber]

Tidak ditemukan catatan sezaman mengenai tanggal atau tahun kelahirannya.

Sejumlah penelitian modern menggunakan perkiraan sekitar 1575, tetapi perkiraan tersebut didasarkan pada rekonstruksi masa aktivitasnya dan bukan pada dokumen kelahiran.[5]

Ayahnya diketahui bernama Abdullah berdasarkan patronimik ibn ʿAbd Allāh.

Informasi mengenai ibu, keluarga, masa kanak-kanak, serta lingkungan pendidikan awal Syamsuddin tidak diketahui.

Hubungan dengan Hamzah Fansuri

[sunting | sunting sumber]

Syamsuddin biasanya ditempatkan sebagai penerus intelektual utama Hamzah Fansuri.

Sejumlah penulis, terutama A. Hasjmy dan penulis Indonesia kemudian, menyebut Syamsuddin secara langsung sebagai murid dan bahkan khalifah Hamzah Fansuri.

Kajian modern cenderung lebih berhati-hati. Hubungan guru-murid langsung tidak diterangkan secara eksplisit dalam sumber biografis sezaman yang diketahui. Namun hubungan intelektual keduanya hampir tidak dapat diragukan.

Syamsuddin:

  • menggunakan kerangka metafisika yang sangat dekat dengan Hamzah;
  • mengutip serta menjelaskan terminologi wujudiyyah;
  • menulis komentar terhadap puisi-puisi yang dinisbahkan kepada Hamzah; dan
  • mempertahankan tradisi metafisika Ibn Arabi yang sebelumnya dikembangkan Hamzah.

Mohamad Nasrin Nasir menyebut Syamsuddin sebagai salah seorang pengikut terpenting Hamzah Fansuri.[2]

Karena itu, formulasi yang paling aman adalah bahwa Syamsuddin merupakan pengikut, penerus, dan sangat mungkin murid Hamzah Fansuri, sementara bentuk persis hubungan personal mereka tidak sepenuhnya terdokumentasi.

Syarah Ruba'i Hamzah Fansuri

[sunting | sunting sumber]

Salah satu bukti paling penting mengenai hubungan intelektual keduanya adalah karya:

Syarḥ Rubāʿī Ḥamzah Fanṣūrī.

Dalam karya ini Syamsuddin memberikan penjelasan atas puisi tasawuf Hamzah.

Komentar tersebut membahas konsep-konsep seperti:

  • wujud;
  • laut dan ombak;
  • tajalli;
  • hubungan Tuhan dengan alam;
  • makrifat;
  • fana;
  • dan bahasa simbolik tasawuf.

A. Hasjmy menerbitkan salah satu versi teks tersebut berdasarkan manuskrip Aceh.

Pada 2021, Pramono dan Sudarmoko melaporkan ditemukannya versi kedua manuskrip Syarh Ruba'i karya Syamsuddin, memperlihatkan bahwa karya tersebut mempunyai sejarah transmisi yang lebih kompleks daripada yang sebelumnya diketahui.[6]

Pendidikan

[sunting | sunting sumber]

Sumber-sumber tidak memberikan daftar guru Syamsuddin seperti yang tersedia untuk Abdurrauf Singkili.

Tradisi kemudian menyebut ia belajar kepada Hamzah Fansuri dan bahkan menghubungkannya dengan Sunan Bonang di Jawa. Klaim terakhir terutama berasal dari historiografi lokal dan sulit diverifikasi berdasarkan kronologi maupun sumber primer.

Karena itu, tidak cukup dasar untuk menyajikan Sunan Bonang sebagai gurunya tanpa kualifikasi.

Yang lebih jelas dari karya-karyanya ialah bahwa Syamsuddin mempunyai pengetahuan luas mengenai tradisi intelektual Islam dalam bahasa Arab serta mampu menggunakan sumber-sumber Persia.

Syamsuddin menulis dalam:

  • bahasa Arab; dan
  • bahasa Melayu-Jawi.

Karya Ḥaqq al-Yaqīn juga menunjukkan pengetahuannya terhadap sastra dan terminologi Persia.

Ia mengutip atau menggunakan karya-karya para penulis Persianate seperti:

Karena itu, dapat dikatakan bahwa ia mempunyai pengetahuan terhadap tradisi literer Persia. Namun belum diketahui adanya kitab utuh yang ditulisnya dalam bahasa Persia.

Syamsuddin dalam lingkungan istana

[sunting | sunting sumber]

Syamsuddin telah muncul sebagai tokoh istana paling lambat pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil.

Ia kemudian tetap mempunyai kedudukan penting pada masa pemerintahan berikutnya dan hidup sampai hampir akhir masa Sultan Iskandar Muda.

Sumber-sumber utama yang memberi informasi mengenai kedudukannya adalah:

  • Hikayat Aceh;
  • Adat Aceh;
  • Bustan al-Salatin;
  • catatan John Davis;
  • catatan Frederik de Houtman;
  • laporan Sir James Lancaster; dan
  • laporan-laporan Eropa lain mengenai istana Aceh.

Informasi yang diberikan masing-masing sumber tidak selalu sama dan nama Syamsuddin tidak selalu disebut secara eksplisit.

Dalam Hikayat Aceh

[sunting | sunting sumber]

Syamsuddin disebut beberapa kali dalam Hikayat Aceh.

Salah satu episode menempatkannya dalam sebuah upacara ketika Perkasa Alam—Iskandar Muda muda—telah menyelesaikan pengajaran membaca Al-Qur'an, mempelajari kitab, dan latihan ketangkasan. Syamsuddin hadir dan membaca al-Fatihah.

Dalam episode lain, dua orang Aceh yang kembali dari Mekkah menghadap Syamsuddin dan menyampaikan berita mengenai pertemuan mereka dengan ulama di Haramain.

Keterangan-keterangan tersebut memperlihatkan kedudukan religiusnya yang tinggi.

Namun Henri Chambert-Loir mengingatkan bahwa Hikayat Aceh tidak menggambarkan Syamsuddin sebagai guru pribadi Iskandar Muda dan tidak memberikan informasi yang cukup untuk menentukan jabatan administratifnya.[4]

Karena itu, klaim populer bahwa Syamsuddin "mendidik Iskandar Muda sejak kecil" atau mengajarkan bela diri kepadanya tidak mempunyai dasar kuat dalam teks yang diketahui.

Dalam Adat Aceh

[sunting | sunting sumber]

Adat Aceh menyebut Syamsuddin dalam konteks upacara kerajaan, termasuk dalam pelaksanaan ritual Iduladha.

Kehadirannya pada upacara-upacara negara memperlihatkan bahwa ia mempunyai posisi tinggi dalam representasi simbolik kekuasaan Aceh.

Tetapi kedudukan seremonial tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa ia mengendalikan pengadilan, pemerintahan, atau administrasi kerajaan.[4]

Catatan John Davis, 1599

[sunting | sunting sumber]

Pelaut Inggris John Davis berada di Aceh pada 1599 bersama rombongan Belanda.

Ia mencatat adanya sejumlah pejabat agama dan menggunakan terminologi Kristen untuk menerangkan struktur keagamaan Aceh:

"They have an Archbishop and Spiritual Dignities."

Davis juga membedakan seorang tokoh lain yang disebutnya sebagai "Prophet".

Para sejarawan kemudian berbeda pendapat mengenai identitas kedua tokoh tersebut.

Sebagian mengidentifikasi "Archbishop" dengan Syamsuddin, sementara peneliti lain pernah menganggap tokoh tersebut sebagai qadi dan mengidentifikasi "Prophet" sebagai Syamsuddin atau Hamzah Fansuri.

Karena Davis tidak menyebut nama, identifikasi tersebut merupakan rekonstruksi historiografis.

Frederik de Houtman

[sunting | sunting sumber]

Frederick de Houtman ditahan di Aceh setelah konflik dengan rombongan Belanda pada 1599.

Laporan yang kemudian diterbitkan sebagai Cort Verhael van 't Gene Wedervaren is Frederick de Houtman tot Atchein menggambarkan keberadaan seorang syekh yang mempunyai hubungan dekat dengan raja.

Tokoh tersebut juga sering diidentifikasi sebagai Syamsuddin.

Namun sebagaimana catatan Davis, teks Eropa tersebut tidak selalu memberikan nama tokoh secara eksplisit sehingga identifikasi harus disampaikan dengan atribusi.

Sir James Lancaster, 1602

[sunting | sunting sumber]

Bukti Eropa yang paling terkenal berasal dari kunjungan James Lancaster pada 1602.

Ketika merundingkan hubungan Inggris–Aceh, Sultan menunjuk dua orang bangsawan untuk berunding dengan Lancaster.

Salah satunya digambarkan sebagai:

the chiefe bishope of the realme

dan disebut sebagai:

a man of great estimation with the king and all the people.[3]

Lancaster juga menyatakan bahwa tokoh tersebut:

  • sangat bijaksana dan tenang;
  • mempunyai kedudukan tinggi;
  • memahami bahasa Arab;
  • dan memainkan peran utama dalam perundingan.

Perundingan dilakukan dalam bahasa Arab, dengan penerjemah Yahudi yang dibawa Lancaster dari Inggris.

Sebagian besar sejarawan modern menganggap tokoh tersebut kemungkinan besar adalah Syamsuddin.[8]

Namun karena Lancaster tidak memberikan namanya, identifikasi itu tidak dapat dianggap sepenuhnya pasti.

Kedudukan politik: masalah historiografis

[sunting | sunting sumber]

Dalam literatur Indonesia Syamsuddin sering disebut:

  • Qadi Malik al-Adil;
  • mufti kerajaan;
  • Syekh al-Islam;
  • ketua Balai Gadang;
  • menteri;
  • bahkan "perdana menteri".

Sebagian keterangan tersebut berasal dari penafsiran terhadap kedudukannya sebagai tokoh agama yang sangat dekat dengan istana.

Henri Chambert-Loir memperingatkan bahwa klaim tersebut banyak mengandung rekonstruksi kemudian.[4]

Teuku Iskandar bahkan menyimpulkan bahwa Syamsuddin:

bukan kepala qadi atau mufti sebagaimana sering diasumsikan, tetapi seorang ulama dan penasihat agama istana yang kadang memberikan pandangan mengenai perkara politik.

Karena itu, artikel ensiklopedis sebaiknya tidak menyatakan jabatan "Qadi Malik al-Adil" sebagai fakta tanpa atribusi.

Yang dapat dikatakan dengan lebih aman ialah bahwa Syamsuddin merupakan ulama istana berkedudukan sangat tinggi yang berfungsi sebagai penasihat agama dan dalam beberapa kesempatan terlibat dalam diplomasi kerajaan.

Peranan diplomatik

[sunting | sunting sumber]

Pertemuan dengan Lancaster memperlihatkan bahwa otoritas Syamsuddin atau tokoh agama yang diidentifikasi dengannya tidak terbatas pada ritual.

Dalam negosiasi tersebut ia meminta Lancaster menjelaskan alasan mengapa Sultan seharusnya mengabulkan permintaan dagang Inggris.

Hal ini menunjukkan kemampuan tokoh agama istana untuk:

  • mewakili Sultan;
  • menilai permintaan asing;
  • berkomunikasi dengan diplomat;
  • serta menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa diplomasi.

Namun tidak cukup bukti untuk menyebut Syamsuddin secara formal sebagai "menteri luar negeri".

Wujudiyyah

[sunting | sunting sumber]

Syamsuddin biasanya ditempatkan bersama Hamzah Fansuri sebagai tokoh utama tradisi wujudiyyah Aceh.

Istilah tersebut berkaitan dengan pemikiran Ibnu Arabi mengenai hubungan antara wujud Tuhan dan alam.

Dalam pembacaan populer, wahdat al-wujud kadang diterjemahkan secara sederhana menjadi "kesatuan Tuhan dan alam". Penyederhanaan tersebut problematis karena Syamsuddin sendiri membedakan dengan tegas antara realitas Tuhan dan realitas makhluk.

Ia tidak mengajarkan bahwa batu, manusia, atau alam secara literal adalah Tuhan.

Sebaliknya, ia berusaha menerangkan bahwa tidak terdapat wujud yang mandiri dari Allah, sementara segala makhluk bergantung sepenuhnya kepada-Nya.

Tanzih dan tashbih

[sunting | sunting sumber]

Salah satu unsur penting pemikirannya adalah keseimbangan antara:

  • tanzīh — ketakterbandingan dan transendensi Allah; dan
  • tashbīh — kedekatan atau kemiripan dalam pengertian manifestasi sifat-sifat ilahi.

Menurut Syamsuddin, pengetahuan yang hanya menekankan satu sisi tidak menghasilkan pemahaman sempurna.

Allah tidak dapat disamakan dengan makhluk, tetapi tanda-tanda dan manifestasi sifat-Nya tampak dalam ciptaan.

Pendekatan tersebut berhubungan dengan tradisi Ibn Arabi dan para pensyarahnya.

Martabat Tujuh

[sunting | sunting sumber]

Kontribusi Syamsuddin yang paling berpengaruh ialah elaborasi Martabat Tujuh.

Skemanya terdiri atas:

  1. Aḥadiyyah — martabat ketaktertentuan mutlak;
  2. Waḥdah — kesatuan atau taʿayyun awwal;
  3. Wāḥidiyyah — taʿayyun thānī, tempat diferensiasi nama dan sifat;
  4. Alam arwah — dunia ruh;
  5. Alam mitsal — dunia bentuk atau citra;
  6. Alam ajsam — dunia jasmani;
  7. Alam insan — dunia manusia, yang mencapai kesempurnaan dalam insan kamil.

Tiga martabat pertama ditempatkannya pada wilayah ketuhanan dan dalam kajian Abdul Aziz Dahlan disebut āniyyat Allāh.

Empat martabat berikutnya berkaitan dengan manifestasi ciptaan atau āniyyat al-makhlūq.[9]

Pembedaan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa Syamsuddin tidak menghapus perbedaan antara Tuhan dan makhluk.

Hubungan dengan al-Burhanpuri

[sunting | sunting sumber]

Teori Martabat Tujuh sangat dekat dengan al-Tuḥfah al-Mursalah ilā Rūḥ al-Nabī karya Muhammad Fadlullah al-Burhanpuri, yang diselesaikan di India sekitar 1590.

Karya tersebut menyebar dengan cepat melalui jaringan Samudra Hindia dan diketahui telah mencapai Aceh sekitar pergantian abad ke-17.

A.H. Johns dan sejumlah peneliti melihat pengaruh kuat al-Tuḥfah al-Mursalah terhadap Syamsuddin.

Namun pengaruh tekstual tidak berarti Syamsuddin merupakan murid langsung al-Burhanpuri.

Tidak ditemukan bukti kuat bahwa keduanya pernah bertemu.

Penelitian Mohamad Nasrin Nasir terhadap Ḥaqq al-Yaqīn bahkan menunjukkan bahwa Syamsuddin tidak dapat dianggap sekadar menyalin al-Burhanpuri; ia menggabungkan berbagai sumber menjadi formulasi yang mempunyai ciri sendiri.[2]

Ḥaqq al-Yaqīn fī ʿAqīdat al-Muḥaqqiqīn

[sunting | sunting sumber]

Salah satu karya penting yang baru memperoleh perhatian besar dalam penelitian modern adalah:

Ḥaqq al-Yaqīn fī ʿAqīdat al-Muḥaqqiqīn fī Dhikr Asrār al-Ṣūfiyyīn al-Muḥaqqiqīn.

Teks ini ditulis dalam bahasa Melayu-Jawi dan dimaksudkan untuk menjelaskan terminologi para muḥaqqiqūn atau para ahli hakikat kepada pembaca Melayu yang tidak menguasai bahasa Arab dan Persia.[2]

Karya tersebut membahas antara lain:

  • istilah para muḥaqqiqūn;
  • lā taʿayyun dan taʿayyun;
  • huwiyyah;
  • āniyyah;
  • hadrah ilahiah;
  • hubungan-hubungan ontologis;
  • kesempurnaan ilahi;
  • dan qurb atau kedekatan dengan Allah.

Nasir menunjukkan bahwa karya itu memadukan tasawuf teoritis dan praktis.

Sumber Persia dalam Ḥaqq al-Yaqīn

[sunting | sunting sumber]

Ḥaqq al-Yaqīn sangat penting untuk membuktikan kedalaman pengetahuan Syamsuddin terhadap tradisi Persianate.

Ia mengutip Mahmud Shabistari dan karya terkenalnya:

Gulshan-i Rāz ("Taman Rahasia").

Ia juga mengenal komentar Muhammad Lahiji atas karya tersebut serta menggunakan gagasan dari Abdurrahman Jami.[7]

Hal tersebut memperlihatkan bahwa tasawuf Melayu pada awal abad ke-17 tidak hanya menerima pemikiran Ibn Arabi melalui bahasa Arab, tetapi juga melalui tradisi komentar dan puisi metafisika Persia.

Mirʾāt al-Muʾminīn

[sunting | sunting sumber]

Mirʾāt al-Muʾminīn ("Cermin Orang-orang Mukmin") merupakan salah satu karya Melayu Syamsuddin.

Teks ini membicarakan dasar-dasar keimanan, antara lain:

  • Allah;
  • para rasul;
  • kitab-kitab;
  • malaikat;
  • hari akhir;
  • dan takdir.

Karya tersebut penting karena memperlihatkan bahwa pemikiran Syamsuddin tidak seluruhnya terbatas pada spekulasi metafisika.

Ia tetap menggunakan kerangka teologi Sunni dan terminologi ilmu kalam.

Mirʾāt al-Muḥaqqiqīn

[sunting | sunting sumber]

Karya lain ialah:

Mirʾāt al-Muḥaqqiqīn.

Beberapa manuskrip karya tersebut masih diketahui.

Salah satu tersimpan di Perpustakaan Negara Malaysia dengan nomor MS3841(B), sedangkan salinan lain terdapat di Museum Aceh.

Teks membahas antara lain:

  • sejarah ilmu makrifat;
  • hubungan makhluk dengan al-Haqq;
  • wujud Allah; dan
  • martabat wujud.

Karya ini juga disebut oleh Nuruddin al-Raniri ketika mengkritik Syamsuddin.

Jawhar al-Ḥaqāʾiq

[sunting | sunting sumber]

Jawhar al-Ḥaqāʾiq merupakan salah satu karya Arabnya yang paling penting.

Van Nieuwenhuijze menggunakan karya ini sebagai salah satu sumber utama untuk merekonstruksi sistem tasawuf Syamsuddin.[1]

Teks membahas:

  • hakikat wujud;
  • martabat tajalli;
  • hubungan Tuhan dengan alam;
  • makrifat;
  • dan perjalanan spiritual.

Tanbīh al-Ṭullāb

[sunting | sunting sumber]

Karya yang dinisbahkan kepadanya berjudul:

Tanbīh al-Ṭullāb fī Maʿrifat al-Malik al-Wahhāb.

Bagian akhirnya membahas zikir dan muraqabah.

Sebuah manuskrip bagian penutup karya tersebut tersimpan di Leiden dengan nomor Or. 6570 dan dikatalogkan sebagai karya Syamsuddin ibn Abdullah al-Samatra'i.

Nūr al-Daqāʾiq

[sunting | sunting sumber]

Nūr al-Daqāʾiq merupakan risalah pendek yang membahas ilmu makrifat dan Martabat Tujuh.

Salinan dalam bahasa Arab dan Melayu dikenal dalam tradisi manuskrip.

A.H. Johns menggunakan sejumlah risalah tasawuf seperti ini dalam penelitiannya mengenai tradisi sufisme Melayu abad ke-17.

Kitāb al-Ḥarakah

[sunting | sunting sumber]

Kitāb al-Ḥarakah adalah risalah pendek yang membahas makrifat dan hubungan antara gerak, wujud, dan manifestasi.

Teks tersebut diketahui dalam versi Arab dan Melayu.

Ṭarīq al-Sālikīn

[sunting | sunting sumber]

Karya ini menjelaskan sejumlah istilah metafisika dan teologi, antara lain:

  • wujūd;
  • ʿadam;
  • ḥaqq;
  • bāṭil;
  • wājib;
  • mumkin;
  • dan mumtaniʿ.

Atribusi serta hubungan antarsalinan teks perlu tetap diperiksa karena sejumlah risalah Syamsuddin bertahan dalam manuskrip kompilasi tanpa kolofon pengarang yang lengkap.

Mirʾāt al-Īmān dan Baḥr al-Nūr

[sunting | sunting sumber]

Judul Mirʾāt al-Īmān atau Kitāb Baḥr al-Nūr muncul dalam inventaris karya Syamsuddin.

Teks membicarakan makrifat, ruh, dan tingkatan wujud.

Hubungan antara kedua judul tersebut—apakah merupakan satu teks, dua teks, atau judul alternatif—tidak selalu dijelaskan secara seragam dalam sumber sekunder.

Risālah Tubayyin...

[sunting | sunting sumber]

Salah satu risalah Arabnya dikenal dengan berbagai bentuk judul, antara lain:

Risālah Tubayyin Mulāḥaẓat al-Muwaḥḥidīn wa al-Mulḥidīn fī Dhikr Allāh.

Teks tersebut berusaha membedakan pemahaman tauhid para muwaḥḥid dari bentuk pemahaman yang dinilainya menyimpang atau mulḥid.

Karya ini penting karena memperlihatkan bahwa Syamsuddin sendiri membedakan antara pemahaman wujudiyyah yang sah dengan interpretasi yang dianggap menyesatkan.

Karya-karya lain

[sunting | sunting sumber]

Berbagai katalog dan penelitian menyebut judul lain yang dihubungkan dengan Syamsuddin, antara lain:

  • Kitāb al-Khirqah;
  • Dāʾirat al-Wujūd;
  • Sirr al-Anwār;
  • Sirr al-Rubūbiyyah;
  • Kashf Sirr al-Tajallī;
  • Syarḥ Syair Ikan Tongkol;
  • Mirʾāt al-Qulūb;
  • serta sejumlah risalah pendek mengenai zikir, tajalli, dan makrifat.

Namun tingkat kepastian atribusi setiap judul tidak sama.

Sebagian hanya disebut oleh al-Raniri atau katalog kemudian; sebagian bertahan tanpa nama pengarang; dan sejumlah judul mungkin sebenarnya merupakan bagian atau versi lain dari teks yang sama.

Karena itu, daftar karya Syamsuddin masih terus berkembang melalui penelitian manuskrip.

Manuskrip awal Museum Aceh

[sunting | sunting sumber]

Salah satu perkembangan terpenting dalam penelitian Syamsuddin adalah pengkajian manuskrip MS 07-01436 di Museum Aceh.

Naskah tersebut memuat beberapa karya Melayu Syamsuddin.

Analisis kodikologis yang dipresentasikan Annabel Gallop dan Zacky Umam menunjukkan bahwa naskah itu kemungkinan disalin di Aceh pada kuartal kedua abad ke-17, mungkin bahkan ketika Syamsuddin masih hidup.[10]

Jika penanggalan tersebut terkonfirmasi, MS 07-01436 merupakan salah satu saksi tekstual paling dekat dengan masa hidup Syamsuddin.

Naskah tersebut juga penting karena banyak salinan karya Syamsuddin yang sebelumnya dikenal berasal dari periode jauh lebih kemudian dan tersimpan di luar Aceh.

Karya Syamsuddin di Minangkabau

[sunting | sunting sumber]

Penelitian Pramono dan Irina Katkova tahun 2025 mengidentifikasi lima belas teks Syamsuddin dalam sebuah manuskrip kompilasi dari Minangkabau.[5]

Kumpulan tersebut dikenal di lingkungan ulama Syattariyah sebagai Kitab al-Taḥqīq.

Temuan ini penting karena membuktikan bahwa karya dan pemikiran Syamsuddin tidak musnah setelah polemik al-Raniri.

Sebaliknya, karya-karyanya terus:

  • disalin;
  • dibaca;
  • diajarkan;
  • dan menjadi rujukan

di lingkungan ulama Minangkabau sampai masa kemudian.

Temuan tersebut juga menunjukkan kesinambungan intelektual Aceh–Minangkabau sebelum dan sesudah masa Burhanuddin Ulakan.

Hubungan dengan tarekat

[sunting | sunting sumber]

Afiliasi tarekat Syamsuddin tidak sepenuhnya jelas.

Beberapa penulis menghubungkannya dengan:

Namun silsilah tarekatnya tidak terdokumentasi sebaik Abdurrauf Singkili.

Hubungan tekstualnya dengan al-Tuḥfah al-Mursalah dan jaringan al-Burhanpuri tidak dapat dengan sendirinya dijadikan bukti bahwa ia menerima ijazah tarekat tertentu dari pengarangnya.

Karena itu, infobox atau artikel sebaiknya tidak menyatakan satu tarekat tertentu sebagai afiliasi pasti tanpa sumber khusus.

Syamsuddin dan Nuruddin al-Raniri

[sunting | sunting sumber]

Syamsuddin wafat pada 1630.

Nuruddin ar-Raniri baru memperoleh kedudukan dominan di istana Aceh pada masa Sultan Iskandar Thani, terutama sejak 1637.

Dengan demikian, keduanya tidak pernah terlibat dalam polemik langsung yang diketahui.

Al-Raniri menyerang ajaran dan karya Syamsuddin serta Hamzah Fansuri setelah keduanya tidak lagi hidup.

Karena itu, penyebutan al-Raniri sebagai "musuh pribadi Syamsuddin" tidak tepat.

Hubungan mereka adalah konflik intelektual lintas generasi.

Kritik al-Raniri

[sunting | sunting sumber]

Dalam karya-karyanya, al-Raniri mengecam sebagian pengikut Hamzah dan Syamsuddin sebagai wujudiyyah mulhidah.

Ia mengutip karya Syamsuddin seperti:

  • Kitāb al-Khirqah;
  • Mirʾāt al-Muḥaqqiqīn;
  • dan Ḥaqq al-Yaqīn;

sebagai contoh teks yang menurutnya mengandung ajaran bermasalah.[2]

Perbedaan utama berhubungan dengan bagaimana ungkapan kesatuan wujud harus dipahami dan batas antara metafora mistik dengan pernyataan teologis literal.

Pembakaran buku dan penghukuman pengikut wujudiyyah

[sunting | sunting sumber]

Pada masa Iskandar Thani, konflik tersebut berkembang menjadi kebijakan negara.

Al-Raniri mengeluarkan kecaman keras terhadap kelompok wujudiyyah.

Sumber kemudian dan kesaksian Eropa mencatat bahwa:

  • penganut diminta meninggalkan ajaran yang dianggap menyimpang;
  • sebagian yang menolak dihukum;
  • dan buku-buku wujudiyyah dibakar di sekitar Masjid Baiturrahman.

Dengan demikian, penghancuran karya Hamzah dan Syamsuddin memang mempunyai dasar historiografis.

Namun Syamsuddin sendiri tidak hadir dalam peristiwa tersebut karena telah wafat sekitar tujuh tahun sebelumnya.

Karena itu, tidak tepat menulis bahwa "perselisihan Syamsuddin dengan Nuruddin berakhir dengan pembakaran kitabnya". Pembakaran merupakan tindakan posthumus terhadap karya dan pengikut tradisinya.

Penilaian kembali ajaran wujudiyyah

[sunting | sunting sumber]

Sejumlah sarjana abad ke-20 dan ke-21 menilai bahwa kecaman al-Raniri tidak sepenuhnya menggambarkan kompleksitas pemikiran Syamsuddin.

Abdul Aziz Dahlan melakukan evaluasi teologis langsung terhadap karya-karyanya dan berpendapat bahwa ajaran Syamsuddin tetap mempertahankan pembedaan antara Tuhan dan makhluk.[9]

Mohamad Nasrin Nasir juga memperlihatkan bahwa Ḥaqq al-Yaqīn mengandung struktur metafisika yang kompleks dan tidak dapat direduksi menjadi panteisme sederhana.[2]

Kajian mutakhir karena itu cenderung membedakan:

  • formulasi asli Syamsuddin;
  • interpretasi para pengikutnya;
  • dan representasi polemis yang diberikan al-Raniri.

Sumber primer penting mengenai kematian Syamsuddin adalah Bustan al-Salatin karya Nuruddin al-Raniri.

Al-Raniri menulis:

Syahdan pada masa itulah wafat Syekh Syamsuddin ibn Abdullah as-Sumatrani pada malam Isnin dua belas hari bulan Rajab pada Hijrah seribu tiga puluh sembilan tahun. Adalah syekh itu alim pada segala ilmu dan ialah yang termasyhur pengetahuannya pada ilmu tasawuf dan beberapa kitab yang dita'lifkannya.

— Bustan al-Salatin

Tarikh tersebut adalah 12 Rajab 1039 H, yang dalam kajian modern dikonversi menjadi sekitar 25 Februari 1630.[4]

Menariknya, meskipun al-Raniri kemudian menjadi kritikus keras pemikirannya, dalam pemberitaan kematian tersebut ia tetap mengakui Syamsuddin sebagai seorang yang:

  • alim dalam berbagai ilmu;
  • termasyhur dalam tasawuf;
  • dan penulis sejumlah kitab.

Hubungan wafat dengan serangan Aceh ke Melaka

[sunting | sunting sumber]

Keterangan Bustan al-Salatin mengenai wafat Syamsuddin ditempatkan setelah pembahasan serangan besar Aceh terhadap Malaka Portugis.

Serangan tersebut dilaksanakan pada 1038 H/1629 M dan berakhir dengan kekalahan besar armada Aceh.

Sesudah menguraikan kegagalan itu, al-Raniri menyatakan:

pada masa itulah Syamsuddin wafat.

Struktur narasi tersebut kemudian ditafsirkan oleh sejumlah penulis sebagai bukti bahwa Syamsuddin ikut dalam ekspedisi Melaka dan gugur di sana. Selain itu, wafat Syamsuddin pada Februari 1630 terjadi beberapa waktu sesudah ekspedisi besar 1629.

Makam di Kampung Ketek, Melaka

[sunting | sunting sumber]

Di Kampung Ketek atau Kampung Keter di Kota Melaka terdapat sebuah makam yang secara lokal dikenal sebagai Makam Syamsuddin al-Sumatrani.

Situs tersebut berada dekat kawasan Kampung Hulu dan telah masuk dalam dokumentasi warisan Melaka.

Tradisi lokal menghubungkan makam tersebut dengan ulama Aceh yang ikut dalam perjuangan melawan Portugis.

Pada abad ke-21 makam tersebut juga mendapat perhatian dari masyarakat dan pemerintah Aceh.

Akan tetapi, atribusi makam tersebut belum didukung oleh bukti epigrafis sezaman yang secara jelas mencantumkan:

Syamsuddin ibn Abdullah al-Sumatrani, wafat 1039 H.

Karena itu, formulasi yang paling aman ialah bahwa sebuah makam di Kampung Ketek secara tradisional diidentifikasi sebagai makam Syamsuddin, sementara lokasi pemakamannya secara historis belum dapat dipastikan.

Pemikiran Syamsuddin mempunyai pengaruh jauh setelah kematiannya.

Martabat Tujuh berkembang dalam tradisi:

  • Aceh;
  • Minangkabau;
  • Jawa;
  • Buton;
  • Semenanjung Melayu;
  • dan berbagai pusat manuskrip Nusantara.

Konsep tersebut mengalami penafsiran berbeda sesuai konteks daerah.

Pengaruh di Minangkabau

[sunting | sunting sumber]

Temuan manuskrip Minangkabau menunjukkan bahwa teks-teks Syamsuddin menjadi rujukan penting lingkungan Syattariyah.[5]

Hal ini penting karena generasi ulama Minangkabau kemudian biasanya dikaitkan terutama dengan Abdurrauf Singkili dan Burhanuddin Ulakan.

Kehadiran karya Syamsuddin menunjukkan bahwa jalur intelektual Aceh–Minangkabau jauh lebih berlapis dan tidak hanya berjalan melalui satu silsilah tarekat.

Pengaruh pada sastra Melayu

[sunting | sunting sumber]

Syamsuddin mempunyai posisi khusus dalam sejarah prosa keagamaan Melayu.

Jika Hamzah Fansuri terkenal terutama sebagai penyair sufi, Syamsuddin lebih banyak mengembangkan gagasan metafisika melalui prosa ekspositoris.

Nasir menggambarkan perbedaan keduanya secara sederhana: Hamzah sangat menonjol dalam pemanfaatan puisi, sedangkan Syamsuddin mengembangkan ajaran sejenis terutama melalui prosa.[2]

Bahasa Melayu Syamsuddin memperlihatkan penggunaan kosakata teknis Arab secara intensif dan merupakan salah satu tahap awal pembentukan bahasa Melayu sebagai bahasa filsafat dan metafisika Islam.

Kedudukan dalam sejarah intelektual Islam Nusantara

[sunting | sunting sumber]

Syamsuddin menempati posisi di antara dua generasi besar pemikiran Aceh.

Sebelumnya terdapat:

  • Hamzah Fansuri dan tradisi wujudiyyah awal.

Sesudahnya muncul:

  • Nuruddin al-Raniri dengan kritik keras terhadap wujudiyyah;
  • Saifurrijal dan kebangkitan kembali kelompok tasawuf metafisis;
  • dan Abdurrauf Singkili dengan upaya rekonsiliasi antara syariat dan tasawuf.

Dengan demikian, pemikiran Islam Aceh abad ke-17 tidak berkembang dalam garis lurus dari "sesat" menuju "ortodoks", tetapi melalui persaingan beberapa interpretasi tasawuf dan hubungan yang kompleks dengan politik istana.

Historiografi

[sunting | sunting sumber]

Penelitian modern tentang Syamsuddin dimulai secara sistematis melalui karya C.A.O. van Nieuwenhuijze:

Samsu'l-Din van Pasai: Bijdrage tot de Kennis der Sumatraansche Mystiek (1945).

Van Nieuwenhuijze mengumpulkan dan menyunting sejumlah teks Syamsuddin dan menjadikannya dasar pertama bagi penelitian modern mengenai pemikirannya.

Abdul Aziz Dahlan kemudian memperluas kajian tersebut melalui penelitian teologis terhadap konsep wahdat al-wujud.

A.H. Johns meneliti hubungan Martabat Tujuh dengan al-Tuḥfah al-Mursalah dan perkembangan sufisme Melayu.

Mohamad Nasrin Mohamad Nasir menghasilkan edisi kritis Ḥaqq al-Yaqīn pada 2008 dan kemudian menerbitkan analisisnya dalam Journal of Islamic Studies.

Penelitian mutakhir oleh Pramono, Irina Katkova, Zacky Umam, dan Annabel Gallop menggeser perhatian menuju:

  • manuskrip-manuskrip baru;
  • sejarah transmisi;
  • hubungan Aceh–Minangkabau;
  • dan rekonstruksi budaya tulisan Aceh pada masa Iskandar Muda.

Perbedaan sumber dan masalah historiografis

[sunting | sunting sumber]
Persoalan Keterangan yang sering beredar Penjelasan yang lebih hati-hati
Tahun lahir Sekitar 1575 Tidak terdapat sumber sezaman yang memberi tahun lahir; 1575 merupakan perkiraan modern
Tempat lahir Pasai Ia memang sering disebut Syamsuddin Pasai, tetapi nisbah al-Sumatrani hanya berarti berkaitan dengan Sumatra; tempat lahir persis tidak diketahui
Hubungan dengan Hamzah Fansuri Murid langsung Hamzah Ia jelas merupakan penerus dan pengikut Hamzah; hubungan guru-murid langsung sangat mungkin tetapi tidak mempunyai dokumentasi biografis sezaman yang lengkap
Belajar kepada Sunan Bonang Disebut sebagai murid Sunan Bonang Terutama berasal dari tradisi kemudian; membutuhkan bukti kronologis dan tekstual lebih kuat
Bahasa Persia Disebut fasih berbahasa Persia Karyanya menunjukkan pengetahuan terhadap teks dan istilah Persia, tetapi belum diketahui karya utuh berbahasa Persia
Jabatan Qadi Malik al-Adil Disebut Qadi Malik al-Adil atau kepala qadi Henri Chambert-Loir dan Teuku Iskandar menilai bukti sezaman tidak cukup untuk memastikan jabatan tersebut
Mufti kerajaan Disebut mufti resmi Aceh Ia jelas ulama dan penasihat keagamaan istana yang sangat penting; nomenklatur jabatan formalnya masih diperdebatkan
Perdana menteri Disebut orang kedua atau perdana menteri Kesultanan Aceh Tidak terdapat bukti sezaman yang memadai untuk menyamakan kedudukannya dengan perdana menteri modern
"Chiefe bishope" Lancaster Dipastikan Syamsuddin Identifikasi sangat mungkin dan diterima banyak sejarawan, tetapi Lancaster tidak menyebut nama tokoh tersebut
Guru Iskandar Muda sejak kecil Disebut mendidik Iskandar Muda, bahkan bela diri Hikayat Aceh menyebut Syamsuddin hadir dalam upacara masa muda Iskandar Muda, tetapi tidak menyebutnya sebagai guru pribadi sang pangeran
Pencipta Martabat Tujuh Syamsuddin dianggap menciptakan Martabat Tujuh Formulasi tujuh martabat sudah terdapat dalam al-Tuḥfah al-Mursalah al-Burhanpuri; Syamsuddin merupakan pengembang dan penyebar pentingnya di dunia Melayu
Murid al-Burhanpuri Kadang dinyatakan pernah belajar langsung kepadanya Pengaruh tekstual sangat kuat, tetapi tidak terdapat bukti yang cukup bahwa mereka pernah bertemu
Wujudiyyah = panteisme Syamsuddin dianggap menyatakan Tuhan dan alam identik Karya-karyanya tetap membedakan martabat ketuhanan dan kemakhlukan; istilah "panteisme" terlalu menyederhanakan metafisikanya
Perselisihan dengan al-Raniri Digambarkan keduanya bertengkar langsung Syamsuddin wafat 1630; al-Raniri memperoleh dominasi di istana sejak 1637. Polemik terjadi terhadap karya dan pengikut Syamsuddin setelah wafatnya
Pembakaran kitab Syamsuddin sendiri mengalami pembakaran karya oleh al-Raniri Pembakaran berlangsung sesudah wafatnya dan ditujukan kepada karya-karya serta pengikut tradisi Hamzah–Syamsuddin
Wafat dalam perang Melaka Disebut gugur melawan Portugis Bustan al-Salatin menempatkan wafatnya dalam rangkaian narasi setelah ekspedisi Melaka; tidak menyebut sebab kematian
Tanggal wafat 1040 H/1630 Bustan al-Salatin secara spesifik menyebut 12 Rajab 1039 H, yang dikonversi sekitar 25 Februari 1630
Makam Kampung Ketek, Melaka dipastikan makamnya Makam tersebut dikenal dalam tradisi lokal sebagai makam Syamsuddin, tetapi atribusi historisnya masih memerlukan bukti epigrafis sezaman

Karya yang diatribusi secara kuat atau sering dikaitkan dengan Syamsuddin antara lain:

  • Jawhar al-Ḥaqāʾiq — bahasa Arab; membahas hakikat wujud, tajalli, dan makrifat.
  • Ḥaqq al-Yaqīn fī ʿAqīdat al-Muḥaqqiqīn fī Dhikr Asrār al-Ṣūfiyyīn al-Muḥaqqiqīn — Melayu-Jawi; salah satu karya metafisika terpentingnya.
  • Mirʾāt al-Muʾminīn — Melayu; membahas akidah dan iman.
  • Mirʾāt al-Muḥaqqiqīn — Melayu; membahas makrifat, hubungan Tuhan–makhluk, dan martabat wujud.
  • Tanbīh al-Ṭullāb fī Maʿrifat al-Malik al-Wahhāb — membahas tasawuf, zikir, dan muraqabah.
  • Risālah Tubayyin Mulāḥaẓat al-Muwaḥḥidīn wa al-Mulḥidīn fī Dhikr Allāh — membedakan pemahaman tauhid yang benar dan yang dianggap menyimpang.
  • Syarḥ Rubāʿī Ḥamzah Fanṣūrī — komentar atas puisi Hamzah Fansuri.
  • Nūr al-Daqāʾiq — mengenai makrifat dan Martabat Tujuh.
  • Kitāb al-Ḥarakah — risalah singkat mengenai makrifat.
  • Ṭarīq al-Sālikīn — menjelaskan istilah-istilah metafisika.
  • Mirʾāt al-Īmān / Kitāb Baḥr al-Nūr — atribusi dan hubungan kedua judul perlu diteliti lebih lanjut.
  • Kitāb al-Khirqah — disebut oleh al-Raniri sebagai karya Syamsuddin.

Judul lain seperti Dāʾirat al-Wujūd, Sirr al-Anwār, Sirr al-Rubūbiyyah, Kashf Sirr al-Tajallī, dan Syarḥ Syair Ikan Tongkol juga muncul dalam inventaris kemudian, tetapi status teks, judul, dan atribusinya perlu diperiksa dari manuskrip masing-masing.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
  1. ↑ Tahun dan tanggal kelahiran Syamsuddin tidak diketahui. Sejumlah publikasi modern menggunakan sekitar 1575, tetapi angka tersebut merupakan perkiraan dan bukan tanggal yang berasal dari sumber sezaman.
  2. ↑ Tradisi kemudian menghubungkan kematiannya dengan ekspedisi Aceh melawan Portugis di Melaka dan mengidentifikasi sebuah makam di Kampung Ketek, Melaka sebagai makamnya. Bustan al-Salatin mencatat tanggal wafatnya tetapi tidak menyebut tempat atau sebab kematiannya.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 van Nieuwenhuijze, C.A.O. (1945). Samsu'l-Din van Pasai: Bijdrage tot de Kennis der Sumatraansche Mystiek (dalam bahasa Belanda). Leiden: E.J. Brill.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 Nasir, Mohamad Nasrin Mohamad (2010). "Presence of God According to Ḥaqq al-Yaqīn, a Seventeenth-Century Treatise by Shaykh Shams al-Dīn al-Sumatraʾī (d. 1630)". Journal of Islamic Studies. 21 (2): 213–234. doi:10.1093/jis/etq001.
  3. 1 2 Markham, Clements R., ed. (1877). The Voyages of Sir James Lancaster, Kt., to the East Indies. London: Hakluyt Society. hlm. 80–82.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 Chambert-Loir, Henri (2017). "Islamic Law in 17th Century Aceh". Archipel. 94: 51–96. doi:10.4000/archipel.444.
  5. 1 2 3 Pramono; Katkova, Irina (2025). "The Works of Shams al-Dīn al-Samaṭrānī and the Doctrine of Martabat Tujuh ("Seven Grades of Being") in Minangkabau". Manuscripta Orientalia. 31 (2): 34–51. doi:10.31250/1238-5018-2025-31-2-34-51.
  6. ↑ Pramono; Sudarmoko (2021). "A Newly Discovered Manuscript: Second Version of Syarh Rubai of Hamza Fansuri Written by Syamsuddin Al Sumatrani". Manuscripta Orientalia. 27 (1): 65–77.
  7. 1 2 Nasir, Mohamad Nasrin Mohamad. "Convergences and Divergences in Understanding a Malay Sufi Text of the 17th Century". Islam and Civilisational Renewal.
  8. ↑ Laffan, Michael (2011). The Makings of Indonesian Islam: Orientalism and the Narration of a Sufi Past. Princeton: Princeton University Press.
  9. 1 2 Dahlan, Abdul Aziz (1999). Penilaian Teologis atas Paham Wahdat al-Wujud: Tuhan, Alam, Manusia dalam Tasawuf Syamsuddin Sumatrani. Padang: IAIN-IB Press.
  10. ↑ Lost and Hidden Manuscripts: A Reassessment of Condemned Islamic Texts in the Early Modern Malay World. EuroSEAS 2024. 2024.

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]
  • Dahlan, Abdul Aziz (1999). Penilaian Teologis atas Paham Wahdat al-Wujud: Tuhan, Alam, Manusia dalam Tasawuf Syamsuddin Sumatrani. Padang: IAIN-IB Press.
  • Markham, Clements R., ed. (1877). The Voyages of Sir James Lancaster, Kt., to the East Indies. London: Hakluyt Society.
  • Nasir, Mohamad Nasrin Mohamad (2010). "Presence of God According to Ḥaqq al-Yaqīn, a Seventeenth-Century Treatise by Shaykh Shams al-Dīn al-Sumatraʾī (d. 1630)". Journal of Islamic Studies. 21 (2): 213–234. doi:10.1093/jis/etq001.
  • Nasir, Mohamad Nasrin Mohamad (2008). A Critical Edition and Study of Haqq al-Yaqin fi Aqidat al-Muhaqqiqin of Shams al-Din Sumatra'i (Tesis). International Institute of Islamic Thought and Civilization, International Islamic University Malaysia.
  • van Nieuwenhuijze, C.A.O. (1945). Samsu'l-Din van Pasai: Bijdrage tot de Kennis der Sumatraansche Mystiek (dalam bahasa Belanda). Leiden: E.J. Brill.
  • Pramono; Katkova, Irina (2025). "The Works of Shams al-Dīn al-Samaṭrānī and the Doctrine of Martabat Tujuh ("Seven Grades of Being") in Minangkabau". Manuscripta Orientalia. 31 (2): 34–51. doi:10.31250/1238-5018-2025-31-2-34-51.
  • Pramono; Sudarmoko (2021). "A Newly Discovered Manuscript: Second Version of Syarh Rubai of Hamza Fansuri Written by Syamsuddin Al Sumatrani". Manuscripta Orientalia. 27 (1): 65–77.
  • Suwondo, Tirto (1998). "Syamsuddin As-Sumatrani: Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya". {{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=

```