Kabupaten Jombang
Kabupaten Jombang | |
|---|---|
| Transkripsi bahasa daerah | |
| • Abjad Jawi | جومبڠ |
| • Jawa | Jombang (Gêdrig) جَومباڠ (Pégon) ꦗꦺꦴꦩ꧀ꦧꦁ (Hånåcåråkå) |
| • Madura | Jumbâng (Latèn) جومبۤاڠ (Pèghu) ꦗꦸꦩ꧀ꦧꦁ (Carakan) |
Bundaran Ringin Contong | |
Julukan:
| |
![]() Peta Kabupaten Jombang | |
| Koordinat: 7°28′S 112°14′E / 7.47°S 112.23°E | |
| Negara | |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Tanggal berdiri | 8 Agustus 1950 |
| Dasar hukum | UU No. 12/1950 |
| Hari jadi | 21 Oktober 1910 |
| Ibu kota | Jombang |
| Jumlah satuan pemerintahan | |
| Pemerintahan | |
| • Bupati | Warsubi |
| • Wakil Bupati | Salmanudin Yazid |
| • Sekretaris Daerah | Agus Purnomo |
| • Ketua DPRD | Mas'ud Zuremi |
| Luas | |
| • Total | 1.159,50 km2 (447,69 sq mi) |
| Populasi | |
| • Total | 1.376,547 |
| • Kepadatan | 1.187/km2 (3,070/sq mi) |
| Demografi | |
| • Agama | |
| • Bahasa | Indonesia (resmi) Jawa Arekan (dominan); – Dialek Jombang Arab Madura |
| • IPM | Tinggi (2021)[3] |
| Zona waktu | UTC+07:00 (WIB) |
| Kode pos | |
| Kode BPS | |
| Kode area telepon | +62 321 |
| Kode ISO 3166 | ID-JI |
| Pelat kendaraan | S xxxx O**/W**/X*/Y*/Z* |
| Kode Kemendagri | 35.17 |
| DAU | Rp 1.141.654.964.000,- (2020)[4] |
| Semboyan daerah | Jombang Beriman "BERsih, Indah, nyaMAN |
| Slogan pariwisata | Jombang Famous |
| Flora resmi | Kelapa genjah-merah |
| Fauna resmi | Gelatik jawa |
| Situs web | www |
Kabupaten Jombang (bahasa Jawa: Hanacaraka: ꦗꦺꦴꦩ꧀ꦧꦁ, Pegon: جَومباڠ; pengucapan bahasa Jawa: [ˈd͡ʒombaŋ]) adalah sebuah kabupaten yang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, Indonesia.[5] Ibu kotanya adalah Kecamatan Jombang. Kabupaten Jombang memiliki ketinggian 44 meter di atas permukaan laut, dan berjarak 79 km dari barat daya Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Luas wilayah kabupaten Jombang yakni 1.159,50 km².[6] Pada tahun 2024, penduduk Jombang mencapai 1.376.547 jiwa, dengan kepadatan penduduk 1.187 jiwa/km2.[1]
Jombang memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di persimpangan jalur lintas tengah (Jakarta–Purwokerto–Yogyakarta–Ngawi–Surabaya) dan selatan Jawa (Bandung–Yogyakarta–Ngawi–Surabaya), jalur Surabaya-Tulungagung, serta jalur Malang-Tuban.[7]
Jombang dikenal dengan sebutan "Kota Santri," karena banyaknya institusi pendidikan Islam (pondok pesantren) di wilayahnya.[8] Bahkan ada pemeo yang mengatakan Jombang adalah pusat pondok pesantren di tanah Jawa karena hampir seluruh pendiri pesantren di Jawa pasti pernah berguru di Jombang. Di antara pondok pesantren yang terkenal adalah Tebuireng, Denanyar, Tambak Beras, dan Darul Ulum (Rejoso).
Tokoh terkenal Indonesia yang dilahirkan di Kabupaten Jombang adalah Presiden Republik Indonesia ke-4, K.H. Abdurrahman Wahid; Ketua Umum PKI pertama, Semaun; pahlawan nasional K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Wahid Hasyim; tokoh intelektual Islam, Nurcholis Madjid; dan budayawan, Emha Ainun Najib.
Etimologi
[sunting | sunting sumber]Salah satu etimologi yang beredar di masyarakat Jombang adalah, bahwa Jombang berasal dari lakuran kata berbahasa Jawa yaitu ijo 'hijau' dan abang 'merah'. Ijo mewakili kaum santri (agamis), dan abang mewakili kaum abangan. Kaum abangan berbeda dengan kaum kejawen. Kaum abangan ini secara sederhana dapat dikatakan sebagai kaum sekuler Jawa, pada praktik agama atau adat mereka tidak terlalu fasih dalam hal tersebut dan "cenderung tidak menitikberatkan pada hal tersebut". Kedua kelompok tersebut hidup berdampingan, dan harmonis di Kabupaten Jombang. Bahkan kedua elemen ini digambarkan dalam warna dasar lambang daerah Kabupaten Jombang.[9]
Namun, apakah nama "Jombang" ini memang benar-benar akronim dari ijo dan abang masih membutuhkan kajian yang lebih komprehensif sebab sumber-sumber yang menjadi rujukan sering kali hanya dari sumber lisan.
Geografi
[sunting | sunting sumber]Kabupaten Jombang terletak di perlintasan jalur selatan jaringan jalan Jakarta – Surabaya. Luas wilayah Kabupaten Jombang mencapai 1.159,50 km², terdiri dari 21 kecamatan dan 306 desa/kelurahan. Wilayah Kabupaten Jombang sebagian besar berada pada ketinggian kurang dari 350 mdpl, dan sebagian kecil berada pada ketinggian ≥1000 mdpl, yaitu wilayah yang berada di Kecamatan Wonosalam. Letak geografis Kabupaten Jombang terletak antara 112°03'45" dan 112°27'21" Bujur Timur dan 7°24'01" – 7°45'01" Lintang Selatan.[10]
Batas wilayah
[sunting | sunting sumber]Kabupaten Jombang berbatasan dengan beberapa wilayah, yakni:[11]
| Utara | Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Lamongan |
|---|---|
| Timur | Kabupaten Mojokerto |
| Selatan | Kabupaten Kediri dan Kabupaten Malang |
| Barat | Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Kediri |
Relief
[sunting | sunting sumber]Sebagian besar wilayah Kabupaten Jombang merupakan dataran rendah, yakni 90% wilayahnya berada pada ketinggian kurang dari 500 meter dpl. Secara umum Kabupaten Jombang dapat dibagi menjadi tiga bagian:
- Bagian utara, terletak di sebelah utara Sungai Brantas, meliputi sebagian besar Kecamatan Plandaan, Kecamatan Kabuh, sebagian Kecamatan Ngusikan, dan Kecamatan Kudu. Daerah ini merupakan daerah perbukitan kapur yang landai dengan ketinggian maksimum 500 m di atas permukaan laut. Perbukitan ini merupakan ujung timur Pegunungan Kendeng.
- Bagian tengah, yakni di sebelah selatan Sungai Brantas, merupakan dataran rendah dengan tingkat kemiringan hingga 15%. Daerah ini merupakan kawasan pertanian dengan jaringan irigasi yang ekstensif serta kawasan permukiman penduduk yang padat.
- Bagian selatan, meliputi Kecamatan Wonosalam, sebagian Kecamatan Bareng, dan Kecamatan Mojowarno. Merupakan daerah pegunungan dengan kondisi wilayah yang bergelombang. Semakin ke tenggara, semakin tinggi. Hanya sebagian Kecamatan Wonosalam yang memiliki ketinggian di atas 500 m.
Sungai
[sunting | sunting sumber]Sungai Brantas, yang merupakan sungai terbesar di Jawa Timur, memisahkan Kabupaten Jombang menjadi dua bagian: bagian utara (24%) dan bagian selatan (76%), sepanjang ±44 km. Kabupaten Jombang juga terus berupaya dalam menyelamatkan tanggul dan ekosistem yang ada di sepanjang sungai Brantas. Langkah itu antara lain dengan membentuk Kelompok Masyarakat (Pokmas) yang anggotanya terdiri dari para penambang pasir yang ada di delapan kecamatan, dan tersebar di 34 desa.[12] Sungai-sungai lain yang signifikan adalah Sungai Marmoyo (23 km), Sungai Ngotok Ring Kanal (27 km), Sungai Konto (14 km), Sungai Gunting (12 km), dan Sungai Jurangjero (12 km).
Tata guna lahan
[sunting | sunting sumber]Pola penggunaan tanah di Kabupaten Jombang (2003) terbanyak digunakan untuk area persawahan (42%), diikuti dengan permukiman (19%), hutan (18%), tegal (12%), dan lainnya. Sebagian besar sawah (82%) merupakan irigasi teknis, dan sebagian (10%) merupakan sawah tadah hujan.
Iklim dan cuaca
[sunting | sunting sumber]Keadaan iklim khususnya curah hujan di Kabupaten Jombang yang terletak pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut, mempunyai curah hujan relatif rendah yakni berkisar antara 1500 – 2000 mm per tahun. Sedangkan untuk daerah yang terletak pada ketinggian lebih dari 500 meter dari permukaan air laut, rata-rata curah hujannya mencapai 2500 mm pertahunnya.
Iklim Kabupaten Jombang termasuk iklim tropis. Berdasarkan hasil perhitungan menurut klasifikasi yang diberikan oleh Schmidt dan Ferguson, iklim Kabupaten Jombang termasuk tipe iklim D, di mana musim penghujan tipe ini biasanya jatuh pada bulan November sampai April, dan musim kemarau jatuh pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober.[13]
| Data iklim Jombang, Jawa Timur, Indonesia | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bulan | Jan | Feb | Mar | Apr | Mei | Jun | Jul | Agt | Sep | Okt | Nov | Des | Tahun |
| Rata-rata tertinggi °C (°F) | 30 (86) |
30 (86) |
30.3 (86.5) |
30.8 (87.4) |
31 (88) |
31 (88) |
30.9 (87.6) |
31.6 (88.9) |
32.4 (90.3) |
32.7 (90.9) |
31.8 (89.2) |
30.7 (87.3) |
31.1 (88.01) |
| Rata-rata harian °C (°F) | 26.1 (79) |
26 (79) |
26.2 (79.2) |
26.4 (79.5) |
26.3 (79.3) |
25.8 (78.4) |
25.5 (77.9) |
25.8 (78.4) |
26.6 (79.9) |
27.2 (81) |
26.8 (80.2) |
26.4 (79.5) |
26.26 (79.27) |
| Rata-rata terendah °C (°F) | 22.2 (72) |
22.1 (71.8) |
22.1 (71.8) |
22.1 (71.8) |
21.6 (70.9) |
20.7 (69.3) |
20.1 (68.2) |
21.1 (70) |
21.8 (71.2) |
22.7 (72.9) |
22.9 (73.2) |
22.1 (71.8) |
21.79 (71.24) |
| Presipitasi mm (inci) | 325 (12.8) |
313 (12.32) |
293 (11.54) |
194 (7.64) |
82 (3.23) |
41 (1.61) |
19 (0.75) |
8 (0.31) |
17 (0.67) |
56 (2.2) |
169 (6.65) |
261 (10.28) |
1.778 (70) |
| Rata-rata hari hujan | 14 | 14 | 12 | 9 | 4 | 2 | 1 | 0 | 1 | 3 | 8 | 11 | 79 |
| % kelembapan | 84 | 83 | 81 | 78 | 75 | 73 | 70 | 67 | 68 | 72 | 77 | 80 | 75.7 |
| Rata-rata sinar matahari bulanan | 144 | 167 | 196 | 234 | 246 | 252 | 290 | 297 | 280 | 237 | 203 | 199 | 2.745 |
| Sumber #1: Climate-Data.org[14] | |||||||||||||
| Sumber #2: BMKG[15] & Weatherbase[16] | |||||||||||||
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Penemuan fosil Homo Mojokertensis di lembah Sungai Brantas menunjukkan bahwa seputaran wilayah yang kini adalah Kabupaten Jombang diduga telah dihuni sejak ratusan ribu tahun yang lalu.[5]
Tahun 929, Raja Mpu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, diduga karena letusan Gunung Merapi atau serangan Kerajaan Sriwijaya. Beberapa literatur menyebutkan pusat kerajaan yang baru ini terletak di Watugaluh. Suksesor Mpu Sindok adalah Sri Isyana Tunggawijaya (947-985) dan Dharmawangsa (985-1006). Tahun 1006, sekutu Sriwijaya menghancurkan ibu kota kerajaan Mataram, dan menewaskan Raja Dharmawangsa. Airlangga, putra mahkota yang ketika itu masih muda, berhasil meloloskan diri dari serbuan Sriwijaya, dan menghimpun kekuatan untuk mendirikan kembali kerajaan yang telah runtuh. Bukti petilasan sejarah Airlangga sewaktu menghimpun kekuatan kini dapat dijumpai di Sendang Made, Kecamatan Kudu. Tahun 1019, Airlangga mendirikan Kerajaan Kahuripan, yang kelak wilayahnya meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali, serta mengadakan perdamaian dengan Sriwijaya.
Pada masa Kerajaan Majapahit, wilayah Kabupaten Jombang masa kini merupakan gerbang Majapahit. Gapura barat adalah Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang, sedangkan gapura selatan adalah Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng. Hingga kini, banyak dijumpai nama-nama desa dan kecamatan (toponimi) yang diawali dengan kata {mojo-}, di antaranya Mojoagung, Mojowarno, Mojojejer, Mojotengah, Mojotrisno, Mojongapit, Mojokuripan, dan sebagainya. Salah satu peninggalan Majapahit di Jombang adalah Candi Arimbi di Kecamatan Bareng.
Menyusul runtuhnya Majapahit, agama Islam mulai berkembang. Jombang kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Mataram Islam. Pasca perjanjian Giyanti wilayah Jombang menjadi bagian dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Mancanegara Surakarta/Brang Wetan Surakarta). Seiring dengan melemahnya pengaruh Mataram dan kemudian kedua pecahannya, Yogyakarta dan Surakarta, kompeni Belanda menjadikan Jombang sebagai bagian dari wilayah VOC pada akhir abad ke-18, yang kemudian menjadi bagian dari Hindia Belanda pada awal abad ke-19. Hal ini dipicu setelah perang Jawa yang begitu menguras kas penjajah untuk itu pada 1830 wilayah mancanegara Surakarta dan Yogyakarta dirampas oleh Belanda sehingga Jombang menjadi langsung di bawah Gupernemen Hindia Belanda. Seperti di daerah lain, pernah diduduki oleh Bala Tentara Dai Nippon (Jepang) pada tahun 1942 sampai Indonesia merdeka pada tahun 1945.
Jombang juga menjadi bagian dari wilayah gerakan revolusi kemerdekaan Indonesia.[17] Etnis Tionghoa juga berkembang dengan adanya tiga kelenteng di wilayah Jombang, yang sampai sekarang masih berfungsi. Etnis Arab juga cukup signifikan berkembang. Hingga kini pun masih ditemukan sejumlah kawasan yang mayoritasnya adalah etnis Tionghoa dan Arab, terutama di kawasan perkotaan.
Tahun 1811, didirikan Kabupaten Mojokerto, yang wilayahnya meliputi Kabupaten Jombang masa kini. Jombang merupakan salah satu kawedanan di dalam Kabupaten Mojokerto. Bahkan Trowulan (di mana merupakan pusat Kerajaan Majapahit), masuk dalam kawedanan (onderdistrict afdeeling) Jombang.
Alfred Russel Wallace (1823-1913), naturalis asal Inggris yang memformulasikan Teori Evolusi, dan terkenal akan Garis Wallace, pernah mengunjungi dan bermalam di Jombang ketika mengeksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia.
Tahun 1910, Jombang memperoleh status Kabupaten, yang memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto, dengan Raden Adipati Arya Soeroadiningrat sebagai Bupati Jombang pertama.[18] Masa pergerakan nasional, wilayah Kabupaten Jombang memiliki peran penting dalam menentang kolonialisme. Beberapa putra Jombang merupakan tokoh perintis kemerdekaan Indonesia, seperti KH Hasyim Asy'ari (salah satu pendiri NU dan pernah menjabat ketua Masyumi) dan KH Wachid Hasyim (salah satu anggota BPUPKI termuda, serta Menteri Agama RI pertama).
Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur mengukuhkan Jombang sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur.
Untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, dibentuklah kecamatan-kecamatan baru pasca kemerdekaan. Tahun 1982, dilakukan pemekaran tiga kecamatan baru sekaligus yaitu Kecamatan Jogoroto yang dimekarkan dari Peterongan, Kecamatan Bandarkedungmulyo yang dimekarkan dari Perak, dan Kecamatan Megaluh yang dimekarkan dari Tembelang.[19] Selanjutnya pada tahun 2001 kembali dilakukan pemekaran kecamatan lagi yaitu Kecamatan Ngusikan yang dimekarkan dari Kecamatan Kudu.
Pemerintahan
[sunting | sunting sumber]Daftar Bupati
[sunting | sunting sumber]Bupati perempuan Jombang pertama Hj Mundjidah Wahab[20] merupakan putri pahlawan nasional KH A Wahab Hasbullah. Secara nasab, Kiai Wahab sambung sampai Joko Tingkir. Secara ringkas, tokoh Jombang yang keturunan Joko Tingkir yaitu pendiri Nahdlatul Ulama dan pahlawan nasional yaitu KH M Hasyim Asy’ari, pahlawan nasional KH Abdul Wahab Hasbullah, pahlawan nasional KH A Wahid Hasyim, presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).
Dari kalangan tokoh perempuan ada Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, Nyai Sholilah, Hj Mundjidah Wahab (Wakil Bupati Jombang 2013-2018, Bupati Jombang 2018-2023) dan masih banyak lagi kiai keturunan Joko Tingkir yang tidak mungkin ditulis satu persatu.
| No | Bupati[21] | Mulai menjabat | Akhir menjabat | Prd. | Ket. | Wakil Bupati | ||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | R.A.A. Soeroadiningrat V Kanjeng Sepuh |
1910 | 1930 | 1 | — | |||
| 2 | R.A.A. Setjoadiningrat VIII | 1930 | 1946 | 2 | ||||
| 3 | R. Boediman Rahardjo | 1946 | 1949 | 3 | ||||
| 4 | R. Moestadjab Soemowidagdo | 1949 | 1950 | 4 | ||||
| 5 | R. Istadjab Tjokrokoesoemo | 1950 | 1956 | 5 | ||||
| 6 | M. Soebijakto | 1956 | 1958 | 6 | ||||
| 7 | Soedarsono | 1958 | 1962 | 7 | ||||
| 8 | R. Hassan Wirjoekoesoemo | 1962 | 1966 | 8 | ||||
| 9 | Ismail | 1966 | 1973 | 9 | ||||
| 10 | HR Soedirman Mertoadikoesoemo | 1973 | 1978 | 10 | ||||
| 11 | Achmad Hudan Dardiri | 1978 | 1983 | 11 | ||||
| 12 | Noeroel Koesmen | 1983 | 1988 | 12 | ||||
| 13 | Tarmin Hariadi | 1988 | 1993 | 13 | ||||
| 14 | Soewoto Adiwibowo | 1993 | 1998 | 14 | ||||
| 15 | Affandi | 1998 | 2003 | 15 | Suyanto | |||
| 16 | Suyanto | 24 September 2003 | 12 Juni 2008 | 16 | Ali Fikri | |||
| — | Ali Fikri (Pelaksana Tugas) |
12 Juni 2008 | 24 September 2008 | — | ||||
| (16) | Suyanto | 24 September 2008 | 24 September 2013 | 17 | Widjono Soeparno | |||
| 17 | Nyono Suharli Wihandoko | 24 September 2013 | 24 September 2018 | 18 | Mundjidah Wahab | |||
| 18 | Mundjidah Wahab | 24 September 2018 | 24 September 2023 | 19 | Sumrambah | |||
| 19 | Warsubi | 20 Februari 2025 | Petahana | 20 | Salmanudin Yazid | |||
| Non-partisan PNI TNI/Polri PDIP P. Golkar PAN PPP Gerindra | ||||||||
Perwakilan
[sunting | sunting sumber]Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Jombang dalam tiga periode terakhir.
| Partai Politik | Jumlah Kursi dalam Periode | |||
|---|---|---|---|---|
| 2014–2019[22] | 2019–2024[23] | 2024–2029[24] | ||
| PKB | 8 | |||
| Gerindra | 2 | |||
| PDI-P | 9 | |||
| Golkar | 7 | |||
| NasDem | (baru) 4 | |||
| PKS | 5 | |||
| Hanura | 2 | |||
| PAN | 3 | |||
| Demokrat | 6 | |||
| Perindo | (baru) 2 | |||
| PPP | 4 | |||
| Jumlah Anggota | 50 | |||
| Jumlah Partai | 10 | |||
Kecamatan
[sunting | sunting sumber]
Kabupaten Jombang terdiri atas 21
