Lompat ke isi

Kabupaten Jombang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Jombang)
Kabupaten Jombang
Transkripsi bahasa daerah
 • Abjad Jawiجومبڠ
 • JawaJombang (Gêdrig)
جَومباڠ (Pégon)
ꦗꦺꦴꦩ꧀ꦧꦁ (Hånåcåråkå)
 • MaduraJumbâng (Latèn)
جومبۤاڠ (Pèghu)
ꦗꦸꦩ꧀ꦧꦁ (Carakan)
Bundaran Ringin Contong
Lambang resmi Kabupaten Jombang
Julukan: 
  • Beriman
  • Toleransi
  • Santri
Peta
Peta Kabupaten Jombang
Kabupaten Jombang di Jawa
Kabupaten Jombang
Kabupaten Jombang
Peta Kabupaten Jombang
Kabupaten Jombang di Indonesia
Kabupaten Jombang
Kabupaten Jombang
Kabupaten Jombang (Indonesia)
Koordinat: 7°28′S 112°14′E / 7.47°S 112.23°E / -7.47; 112.23
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
Tanggal berdiri8 Agustus 1950
Dasar hukumUU No. 12/1950
Hari jadi21 Oktober 1910; 115 tahun lalu (1910-10-21)
Ibu kotaJombang
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kecamatan: 21
  • Kelurahan: 4
  • Desa: 302
Pemerintahan
 • BupatiWarsubi
 • Wakil BupatiSalmanudin Yazid
 • Sekretaris DaerahAgus Purnomo
 • Ketua DPRDMas'ud Zuremi
Luas
 • Total1.159,50 km2 (447,69 sq mi)
Populasi
 • Total1.376,547
 • Kepadatan1.187/km2 (3,070/sq mi)
Demografi
 • Agama
  • 97,27% Islam
  • 0,37% Hindu
  • 0,09% Buddha
  • 0,08% Konghucu
  • 0,01% Lainnya[2]
 • BahasaIndonesia (resmi)
Jawa Arekan (dominan);
– Dialek Jombang
Arab
Madura
 • IPMKenaikan 73,45 (0.734)
Tinggi (2021)[3]
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode pos
Kode BPS
3517 Suntingan nilai di Wikidata
Kode area telepon+62 321
Kode ISO 3166ID-JI
Pelat kendaraanS xxxx O**/W**/X*/Y*/Z*
Kode Kemendagri35.17 Suntingan nilai di Wikidata
DAURp 1.141.654.964.000,- (2020)[4]
Semboyan daerahJombang Beriman
"BERsih, Indah,
nyaMAN
Slogan pariwisataJombang Famous
Flora resmiKelapa genjah-merah
Fauna resmiGelatik jawa
Situs webwww.jombangkab.go.id

Kabupaten Jombang (bahasa Jawa: Hanacaraka: ꦗꦺꦴꦩ꧀ꦧꦁ, Pegon: جَومباڠ; pengucapan bahasa Jawa: [ˈd͡ʒombaŋ]) adalah sebuah kabupaten yang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, Indonesia.[5] Ibu kotanya adalah Kecamatan Jombang. Kabupaten Jombang memiliki ketinggian 44 meter di atas permukaan laut, dan berjarak 79 km dari barat daya Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Luas wilayah kabupaten Jombang yakni 1.159,50 km².[6] Pada tahun 2024, penduduk Jombang mencapai 1.376.547 jiwa, dengan kepadatan penduduk 1.187 jiwa/km2.[1]

Jombang memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di persimpangan jalur lintas tengah (Jakarta–Purwokerto–Yogyakarta–Ngawi–Surabaya) dan selatan Jawa (Bandung–Yogyakarta–Ngawi–Surabaya), jalur Surabaya-Tulungagung, serta jalur Malang-Tuban.[7]

Jombang dikenal dengan sebutan "Kota Santri," karena banyaknya institusi pendidikan Islam (pondok pesantren) di wilayahnya.[8] Bahkan ada pemeo yang mengatakan Jombang adalah pusat pondok pesantren di tanah Jawa karena hampir seluruh pendiri pesantren di Jawa pasti pernah berguru di Jombang. Di antara pondok pesantren yang terkenal adalah Tebuireng, Denanyar, Tambak Beras, dan Darul Ulum (Rejoso).

Tokoh terkenal Indonesia yang dilahirkan di Kabupaten Jombang adalah Presiden Republik Indonesia ke-4, K.H. Abdurrahman Wahid; Ketua Umum PKI pertama, Semaun; pahlawan nasional K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Wahid Hasyim; tokoh intelektual Islam, Nurcholis Madjid; dan budayawan, Emha Ainun Najib.

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Salah satu etimologi yang beredar di masyarakat Jombang adalah, bahwa Jombang berasal dari lakuran kata berbahasa Jawa yaitu ijo 'hijau' dan abang 'merah'. Ijo mewakili kaum santri (agamis), dan abang mewakili kaum abangan. Kaum abangan berbeda dengan kaum kejawen. Kaum abangan ini secara sederhana dapat dikatakan sebagai kaum sekuler Jawa, pada praktik agama atau adat mereka tidak terlalu fasih dalam hal tersebut dan "cenderung tidak menitikberatkan pada hal tersebut". Kedua kelompok tersebut hidup berdampingan, dan harmonis di Kabupaten Jombang. Bahkan kedua elemen ini digambarkan dalam warna dasar lambang daerah Kabupaten Jombang.[9]

Namun, apakah nama "Jombang" ini memang benar-benar akronim dari ijo dan abang masih membutuhkan kajian yang lebih komprehensif sebab sumber-sumber yang menjadi rujukan sering kali hanya dari sumber lisan.

Kabupaten Jombang terletak di perlintasan jalur selatan jaringan jalan Jakarta – Surabaya. Luas wilayah Kabupaten Jombang mencapai 1.159,50 km², terdiri dari 21 kecamatan dan 306 desa/kelurahan. Wilayah Kabupaten Jombang sebagian besar berada pada ketinggian kurang dari 350 mdpl, dan sebagian kecil berada pada ketinggian ≥1000 mdpl, yaitu wilayah yang berada di Kecamatan Wonosalam. Letak geografis Kabupaten Jombang terletak antara 112°03'45" dan 112°27'21" Bujur Timur dan 7°24'01" – 7°45'01" Lintang Selatan.[10]

Batas wilayah

[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Jombang berbatasan dengan beberapa wilayah, yakni:[11]

Utara Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Lamongan
Timur Kabupaten Mojokerto
Selatan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Malang
Barat Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Kediri

Sebagian besar wilayah Kabupaten Jombang merupakan dataran rendah, yakni 90% wilayahnya berada pada ketinggian kurang dari 500 meter dpl. Secara umum Kabupaten Jombang dapat dibagi menjadi tiga bagian:

  • Bagian utara, terletak di sebelah utara Sungai Brantas, meliputi sebagian besar Kecamatan Plandaan, Kecamatan Kabuh, sebagian Kecamatan Ngusikan, dan Kecamatan Kudu. Daerah ini merupakan daerah perbukitan kapur yang landai dengan ketinggian maksimum 500 m di atas permukaan laut. Perbukitan ini merupakan ujung timur Pegunungan Kendeng.
  • Bagian tengah, yakni di sebelah selatan Sungai Brantas, merupakan dataran rendah dengan tingkat kemiringan hingga 15%. Daerah ini merupakan kawasan pertanian dengan jaringan irigasi yang ekstensif serta kawasan permukiman penduduk yang padat.
  • Bagian selatan, meliputi Kecamatan Wonosalam, sebagian Kecamatan Bareng, dan Kecamatan Mojowarno. Merupakan daerah pegunungan dengan kondisi wilayah yang bergelombang. Semakin ke tenggara, semakin tinggi. Hanya sebagian Kecamatan Wonosalam yang memiliki ketinggian di atas 500 m.

Sungai Brantas, yang merupakan sungai terbesar di Jawa Timur, memisahkan Kabupaten Jombang menjadi dua bagian: bagian utara (24%) dan bagian selatan (76%), sepanjang ±44 km. Kabupaten Jombang juga terus berupaya dalam menyelamatkan tanggul dan ekosistem yang ada di sepanjang sungai Brantas. Langkah itu antara lain dengan membentuk Kelompok Masyarakat (Pokmas) yang anggotanya terdiri dari para penambang pasir yang ada di delapan kecamatan, dan tersebar di 34 desa.[12] Sungai-sungai lain yang signifikan adalah Sungai Marmoyo (23 km), Sungai Ngotok Ring Kanal (27 km), Sungai Konto (14 km), Sungai Gunting (12 km), dan Sungai Jurangjero (12 km).

Tata guna lahan

[sunting | sunting sumber]

Pola penggunaan tanah di Kabupaten Jombang (2003) terbanyak digunakan untuk area persawahan (42%), diikuti dengan permukiman (19%), hutan (18%), tegal (12%), dan lainnya. Sebagian besar sawah (82%) merupakan irigasi teknis, dan sebagian (10%) merupakan sawah tadah hujan.

Iklim dan cuaca

[sunting | sunting sumber]

Keadaan iklim khususnya curah hujan di Kabupaten Jombang yang terletak pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut, mempunyai curah hujan relatif rendah yakni berkisar antara 1500 – 2000 mm per tahun. Sedangkan untuk daerah yang terletak pada ketinggian lebih dari 500 meter dari permukaan air laut, rata-rata curah hujannya mencapai 2500 mm pertahunnya.

Iklim Kabupaten Jombang termasuk iklim tropis. Berdasarkan hasil perhitungan menurut klasifikasi yang diberikan oleh Schmidt dan Ferguson, iklim Kabupaten Jombang termasuk tipe iklim D, di mana musim penghujan tipe ini biasanya jatuh pada bulan November sampai April, dan musim kemarau jatuh pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober.[13]

Data iklim Jombang, Jawa Timur, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 30
(86)
30
(86)
30.3
(86.5)
30.8
(87.4)
31
(88)
31
(88)
30.9
(87.6)
31.6
(88.9)
32.4
(90.3)
32.7
(90.9)
31.8
(89.2)
30.7
(87.3)
31.1
(88.01)
Rata-rata harian °C (°F) 26.1
(79)
26
(79)
26.2
(79.2)
26.4
(79.5)
26.3
(79.3)
25.8
(78.4)
25.5
(77.9)
25.8
(78.4)
26.6
(79.9)
27.2
(81)
26.8
(80.2)
26.4
(79.5)
26.26
(79.27)
Rata-rata terendah °C (°F) 22.2
(72)
22.1
(71.8)
22.1
(71.8)
22.1
(71.8)
21.6
(70.9)
20.7
(69.3)
20.1
(68.2)
21.1
(70)
21.8
(71.2)
22.7
(72.9)
22.9
(73.2)
22.1
(71.8)
21.79
(71.24)
Presipitasi mm (inci) 325
(12.8)
313
(12.32)
293
(11.54)
194
(7.64)
82
(3.23)
41
(1.61)
19
(0.75)
8
(0.31)
17
(0.67)
56
(2.2)
169
(6.65)
261
(10.28)
1.778
(70)
Rata-rata hari hujan 14 14 12 9 4 2 1 0 1 3 8 11 79
% kelembapan 84 83 81 78 75 73 70 67 68 72 77 80 75.7
Rata-rata sinar matahari bulanan 144 167 196 234 246 252 290 297 280 237 203 199 2.745
Sumber #1: Climate-Data.org[14]
Sumber #2: BMKG[15] & Weatherbase[16]

Penemuan fosil Homo Mojokertensis di lembah Sungai Brantas menunjukkan bahwa seputaran wilayah yang kini adalah Kabupaten Jombang diduga telah dihuni sejak ratusan ribu tahun yang lalu.[5]

Tahun 929, Raja Mpu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, diduga karena letusan Gunung Merapi atau serangan Kerajaan Sriwijaya. Beberapa literatur menyebutkan pusat kerajaan yang baru ini terletak di Watugaluh. Suksesor Mpu Sindok adalah Sri Isyana Tunggawijaya (947-985) dan Dharmawangsa (985-1006). Tahun 1006, sekutu Sriwijaya menghancurkan ibu kota kerajaan Mataram, dan menewaskan Raja Dharmawangsa. Airlangga, putra mahkota yang ketika itu masih muda, berhasil meloloskan diri dari serbuan Sriwijaya, dan menghimpun kekuatan untuk mendirikan kembali kerajaan yang telah runtuh. Bukti petilasan sejarah Airlangga sewaktu menghimpun kekuatan kini dapat dijumpai di Sendang Made, Kecamatan Kudu. Tahun 1019, Airlangga mendirikan Kerajaan Kahuripan, yang kelak wilayahnya meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali, serta mengadakan perdamaian dengan Sriwijaya.

Pada masa Kerajaan Majapahit, wilayah Kabupaten Jombang masa kini merupakan gerbang Majapahit. Gapura barat adalah Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang, sedangkan gapura selatan adalah Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng. Hingga kini, banyak dijumpai nama-nama desa dan kecamatan (toponimi) yang diawali dengan kata {mojo-}, di antaranya Mojoagung, Mojowarno, Mojojejer, Mojotengah, Mojotrisno, Mojongapit, Mojokuripan, dan sebagainya. Salah satu peninggalan Majapahit di Jombang adalah Candi Arimbi di Kecamatan Bareng.

Menyusul runtuhnya Majapahit, agama Islam mulai berkembang. Jombang kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Mataram Islam. Pasca perjanjian Giyanti wilayah Jombang menjadi bagian dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Mancanegara Surakarta/Brang Wetan Surakarta). Seiring dengan melemahnya pengaruh Mataram dan kemudian kedua pecahannya, Yogyakarta dan Surakarta, kompeni Belanda menjadikan Jombang sebagai bagian dari wilayah VOC pada akhir abad ke-18, yang kemudian menjadi bagian dari Hindia Belanda pada awal abad ke-19. Hal ini dipicu setelah perang Jawa yang begitu menguras kas penjajah untuk itu pada 1830 wilayah mancanegara Surakarta dan Yogyakarta dirampas oleh Belanda sehingga Jombang menjadi langsung di bawah Gupernemen Hindia Belanda. Seperti di daerah lain, pernah diduduki oleh Bala Tentara Dai Nippon (Jepang) pada tahun 1942 sampai Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Jombang juga menjadi bagian dari wilayah gerakan revolusi kemerdekaan Indonesia.[17] Etnis Tionghoa juga berkembang dengan adanya tiga kelenteng di wilayah Jombang, yang sampai sekarang masih berfungsi. Etnis Arab juga cukup signifikan berkembang. Hingga kini pun masih ditemukan sejumlah kawasan yang mayoritasnya adalah etnis Tionghoa dan Arab, terutama di kawasan perkotaan.

Tahun 1811, didirikan Kabupaten Mojokerto, yang wilayahnya meliputi Kabupaten Jombang masa kini. Jombang merupakan salah satu kawedanan di dalam Kabupaten Mojokerto. Bahkan Trowulan (di mana merupakan pusat Kerajaan Majapahit), masuk dalam kawedanan (onderdistrict afdeeling) Jombang.

Alfred Russel Wallace (1823-1913), naturalis asal Inggris yang memformulasikan Teori Evolusi, dan terkenal akan Garis Wallace, pernah mengunjungi dan bermalam di Jombang ketika mengeksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia.

Tahun 1910, Jombang memperoleh status Kabupaten, yang memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto, dengan Raden Adipati Arya Soeroadiningrat sebagai Bupati Jombang pertama.[18] Masa pergerakan nasional, wilayah Kabupaten Jombang memiliki peran penting dalam menentang kolonialisme. Beberapa putra Jombang merupakan tokoh perintis kemerdekaan Indonesia, seperti KH Hasyim Asy'ari (salah satu pendiri NU dan pernah menjabat ketua Masyumi) dan KH Wachid Hasyim (salah satu anggota BPUPKI termuda, serta Menteri Agama RI pertama).

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur mengukuhkan Jombang sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur.

Untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, dibentuklah kecamatan-kecamatan baru pasca kemerdekaan. Tahun 1982, dilakukan pemekaran tiga kecamatan baru sekaligus yaitu Kecamatan Jogoroto yang dimekarkan dari Peterongan, Kecamatan Bandarkedungmulyo yang dimekarkan dari Perak, dan Kecamatan Megaluh yang dimekarkan dari Tembelang.[19] Selanjutnya pada tahun 2001 kembali dilakukan pemekaran kecamatan lagi yaitu Kecamatan Ngusikan yang dimekarkan dari Kecamatan Kudu.

Pemerintahan

[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati

[sunting | sunting sumber]

Bupati perempuan Jombang pertama Hj Mundjidah Wahab[20] merupakan putri pahlawan nasional KH A Wahab Hasbullah. Secara nasab, Kiai Wahab sambung sampai Joko Tingkir. Secara ringkas, tokoh Jombang yang keturunan Joko Tingkir yaitu pendiri Nahdlatul Ulama dan pahlawan nasional yaitu KH M Hasyim Asy’ari, pahlawan nasional KH Abdul Wahab Hasbullah, pahlawan nasional KH A Wahid Hasyim, presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).

Dari kalangan tokoh perempuan ada Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, Nyai Sholilah, Hj Mundjidah Wahab (Wakil Bupati Jombang 2013-2018, Bupati Jombang 2018-2023) dan masih banyak lagi kiai keturunan Joko Tingkir yang tidak mungkin ditulis satu persatu.

No Bupati[21] Mulai menjabat Akhir menjabat Prd. Ket. Wakil Bupati
1 R.A.A. Soeroadiningrat V
Kanjeng Sepuh
1910 1930 1 —
2 R.A.A. Setjoadiningrat VIII 1930 1946 2
3 R. Boediman Rahardjo 1946 1949 3
4 R. Moestadjab Soemowidagdo 1949 1950 4
5 R. Istadjab Tjokrokoesoemo 1950 1956 5
6 M. Soebijakto 1956 1958 6
7 Soedarsono 1958 1962 7
8 R. Hassan Wirjoekoesoemo 1962 1966 8
9 Ismail 1966 1973 9
10 HR Soedirman Mertoadikoesoemo 1973 1978 10
11 Achmad Hudan Dardiri 1978 1983 11
12 Noeroel Koesmen 1983 1988 12
13 Tarmin Hariadi 1988 1993 13
14 Soewoto Adiwibowo 1993 1998 14
15 Affandi 1998 2003 15 Suyanto
16 Suyanto 24 September 2003 12 Juni 2008 16 Ali Fikri
— Ali Fikri
(Pelaksana Tugas)
12 Juni 2008 24 September 2008 —
(16) Suyanto 24 September 2008 24 September 2013 17 Widjono Soeparno
17 Nyono Suharli Wihandoko 24 September 2013 24 September 2018 18 Mundjidah Wahab
18 Mundjidah Wahab 24 September 2018 24 September 2023 19 Sumrambah
19 Warsubi 20 Februari 2025 Petahana 20 Salmanudin Yazid
  Non-partisan        PNI       TNI/Polri       PDIP        P. Golkar       PAN   PPP   Gerindra

Perwakilan

[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Jombang dalam tiga periode terakhir.

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014–2019[22] 2019–2024[23] 2024–2029[24]
PKB 8 Kenaikan 10 Kenaikan 12
Gerindra 2 Kenaikan 4 Kenaikan 8
PDI-P 9 Kenaikan 10 Steady 10
Golkar 7 Penurunan 5 Steady 5
NasDem (baru) 4 Penurunan 1 Kenaikan 2
PKS 5 Penurunan 3 Steady 3
Hanura 2 Penurunan 0 Steady 0
PAN 3 Steady 3 Penurunan 0
Demokrat 6 Penurunan 5 Kenaikan 6
Perindo (baru) 2 Penurunan 0
PPP 4 Kenaikan 7 Penurunan 4
Jumlah Anggota 50 Steady 50 Steady 50
Jumlah Partai 10 Steady 10 Penurunan 8

Kecamatan

[sunting | sunting sumber]
Peta administratif Kabupaten Jombang

Kabupaten Jombang terdiri atas 21