Lompat ke isi

Sutan Sjahrir

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Sutan Syahrir)
Sutan Sjahrir
Potret, ca 1952
Perdana Menteri Indonesia ke-1
Masa jabatan
14 November 1945 – 3 Juli 1947
PresidenSoekarno
PendahuluTidak ada, jabatan baru
PenggantiAmir Sjarifoeddin
Menteri Dalam Negeri Indonesia ke-2
Masa jabatan
14 November 1945 – 12 Maret 1946
PresidenSoekarno
PendahuluWiranatakusumah V
PenggantiSudarsono
Menteri Luar Negeri Indonesia ke-2
Masa jabatan
14 November 1945 – 3 Juli 1947
PresidenSoekarno
PendahuluAchmad Soebardjo
PenggantiAgus Salim
Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat ke-2
Masa jabatan
17 Oktober 1945 – 14 November 1945
PendahuluKasman Singodimedjo
PenggantiSoepeno
Informasi pribadi
Lahir(1909-03-05)5 Maret 1909
Meninggal9 April 1966(1966-04-09) (umur 57)
Zürich, Swiss
MakamTaman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata
Partai politik
Suami/istri
Maria Johanna Duchateau
​
​
(m. 1932; c. 1948)​

Siti Wahyunah
​
(m. 1951)​
Anak2
KerabatSoedjatmoko (ipar)
AlmamaterUniversitas Amsterdam
Universitas Leiden
Tanda tangan

Sutan Sjahrir (Ejaan Van Ophuijsen: Soetan Sjahrir, EYD: Sutan Syahrir; 5 Maret 1909 – 9 April 1966) adalah seorang negarawan dan pemimpin kemerdekaan Indonesia yang menjabat sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia dari tahun 1945 hingga 1947. Ia memainkan peran kunci selama Revolusi Nasional Indonesia dan aktif dalam gerakan nasionalis pada tahun 1930-an. Sjahrir dikenang sebagai seorang idealis dan intelektual.[1]

Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948. Ia meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Sutan Sjahrir ditetapkan sebagai salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 9 April 1966 melalui Keppres nomor 76 tahun 1966.[2]

Sjahrir lahir di Padang Pandjang, Sumatera Barat dari pasangan Mohammad Rasad dengan gelar Maharaja Soetan bin Leman dan gelar Soetan Palindih dari Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat dan Puti Siti Rabiah yang berasal dari negeri Natal, Mandailing Natal, Sumatera Utara.[3] Ayahnya menjabat sebagai penasihat sultan Deli dan kepala jaksa di landraad (pengadilan negeri) Medan. Sjahrir bersaudara seayah dengan Rohana Kudus, aktivis serta wartawan wanita yang terkemuka. Sjahrir bersaudara kandung dengan Soetan Sjahsam, seorang makelar saham pribumi paling berpengalaman pada masanya dan Soetan Noeralamsjah, seorang jaksa dan politikus Partai Indonesia Raya (Parindra).[4]

Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Medan ca 1920-an

Sjahrir mengenyam pendidikan di sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan. Hal ini mengantarkannya kepada berbagai buku-buku asing dan ratusan novel Belanda. Malamnya dia mengamen di Hotel De Boer (kini Grand Inna Medan), hotel khusus untuk tamu-tamu Eropa.

Pada 1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung. Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volksuniversiteit (Cahaya Universitas Rakyat).

Di kalangan siswa sekolah menengah (AMS) Bandung, Sjahrir menjadi seorang bintang. Sjahrir bukanlah tipe siswa yang hanya menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran dan pekerjaan rumah. Ia aktif dalam klub debat di sekolahnya. Sjahrir juga berkecimpung dalam aksi pendidikan melek huruf secara gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu dalam Tjahja Volksuniversiteit.

Aksi sosial Sjahrir kemudian menjurus jadi politis. Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada tanggal 20 Februari 1927, Sjahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesië. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan