Lompat ke isi

Yesuit

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Society of Jesus)

Serikat Yesus
bahasa Latin: Societas Jesu
SingkatanS.J. atau SJ
JulukanYesuit
Tanggal pendirianSeptember 27, 1540; 486 tahun lalu (1540-09-27)[1]
Pendiri
Didirikan di
JenisOrdo klerus regular dengan hak kepausan (untuk pria)[1]
Kantor pusatGeneralate:
Borgo S. Spirito 4, 00195 Prati, Roma, Italia
Koordinat41°54′5″N 12°27′38″E / 41.90139°N 12.46056°E / 41.90139; 12.46056
Wilayah layanan
Di seluruh dunia
Jumlah anggota
13,768 (2025)[1]
Motto
bahasa Latin: Ad Maiorem Dei Gloriam
Bahasa Indonesia: Untuk Keagungan Allah Yang Lebih Besar
Fr. Arturo Sosa, SJ
Orang-orang kudus pelindung
Kementerian
Karya misionaris, pendidikan, sastra
Organisasi induk
Gereja Katolik
Situs webwww.jesuits.global

Serikat Yesus (bahasa Latin: Societas Iesu; disingkat: S.J. atau SJ), juga dikenal sebagai Ordo Jesuit atau Jesuit (/ˈdʒɛʒuɪts, ˈdʒɛzju-/;[2] bahasa Latin: Iesuitae),[3] adalah sebuah ordo religius yang terdiri dari tarekat reguler yang memiliki hak kepausan bagi pria di Gereja Katolik yang berpusat di Roma. Didirikan pada tahun 1540 oleh Ignatius Loyola dan enam orang rekannya, dengan persetujuan Paus Paulus III. Serikat Yesus terlibat dalam penginjilan dan pelayanan kerasulan di 112 negara. Para Jesuit bekerja di bidang pendidikan, penelitian, dan kegiatan budaya. Mereka juga mengadakan retret, melayani di rumah sakit dan paroki, mensponsori karya sosial dan kemanusiaan langsung, dan mempromosikan dialog ekumenis.

Serikat Yesus ditahbiskan di bawah perlindungan Madonna della Strada, sebuah gelar dari Perawan Maria yang Terberkati, dan dipimpin oleh seorang superior jenderal.[4][5] Markas besar perkumpulan ini, kuria umumnya, berada di Roma.[6] Kuria bersejarah Ignatius sekarang menjadi bagian dari Collegio del Gesù melekat pada Gereja Gesù, gereja induk Jesuit.

Para anggota Serikat Yesus menyatakan pengakuan akan "kemiskinan, kesucian, dan ketaatan abadi" dan "berjanji akan ketaatan khusus kepada Paus berkenaan dengan misi." Seorang Jesuit diharapkan untuk sepenuhnya siap sedia dan patuh kepada atasannya, menerima perintah untuk pergi ke mana pun di dunia, bahkan jika diharuskan untuk hidup dalam kondisi yang ekstrem. Ignatius, pendiri utamanya, adalah seorang bangsawan yang memiliki latar belakang militer. Baris pembukaan dokumen pendirian Serikat Yesus dengan demikian menyatakan bahwa serikat ini didirikan untuk “siapa pun yang ingin mengabdi sebagai prajurit Allah,[a] untuk berjuang terutama demi pembelaan dan penyebaran iman, dan demi kemajuan jiwa-jiwa dalam kehidupan dan doktrin Kristen".[7] Oleh karena itu, para Jesuit kadang-kadang disebut sebagai "prajurit Tuhan" dalam bahasa sehari-hari.[8] "Marinir Tuhan",[9] atau "Pelayan Tuhan".[10] Serikat Yesus turut serta dalam Kontra-Reformasi dan kemudian dalam pelaksanaan Konsili Vatikan Kedua.

Para misionaris Jesuit mendirikan misi di seluruh dunia dari abad ke-16 hingga abad ke-18 dan mengalami keberhasilan dan kegagalan dalam mengkristenkan penduduk asli. Para Jesuit selalu menjadi kontroversi dalam Gereja Katolik dan sering kali berselisih dengan pemerintah dan lembaga sekuler. Dimulai pada tahun 1759, Gereja Katolik mengusir para Jesuit dari sebagian besar negara di Eropa dan dari koloni-koloni Eropa. Paus Klemens XIV secara resmi menindas ordo tersebut pada tahun 1773. Pada tahun 1814, Gereja mencabut penindasan tersebut.

Dasar

Ignatius Loyola

Pada 15 Agustus 1534, Ignatius Loyola dan enam mahasiswa lainnya (Fransiskus Xaverius, Alfonso Salmeron, Diego Laynez, dan Nicolas Bobadilla, semuanya orang Spanyol, Pierre Favre dari Prancis dan Simão Rodrigues, orang Portugis) bertemu di Montmartre di luar Paris, kemungkinan dekat Kapel St. Denys, Rue Antoinette, pada masa kini.[11][12] Mereka mendirikan Serikat Yesus untuk "mengemban pelayanan dan misi di Yerusalem, atau untuk pergi ke mana pun juga tanpa bertanya, menaati perintah Paus."[13][11][14]

Pada 1537 mereka pergi ke Italia untuk mendapatkan persetujuan Paus atas ordo mereka.[13][15]Paus Paulus III memberikan mereka persetujuan dan mengizinkan mereka untuk ditahbiskan menjadi pastor dalam Gereja Katolik.[13] Mereka menerima tahbisan di Venesia oleh Uskup Arbe (24 Juni).[13][12] Mereka mengabdikan diri untuk menyebarkan agama Katolik dan kerja amal di Italia, karena rencana perjalanan mereka ke Yerusalem terhalang oleh pecahnya kembali perang antara kaisar, Venesia, Paus, dan Kerajaan Ottoman.[13]

Regimini militantis Ecclesiae

Bersama Favre dan Laynez, Ignatius pergi ke Roma pada Oktober 1538, untuk mendapatkan persetujuan Paus atas konstitusi ordo baru tersebut.[16][15] Sebuah dewan Kardinal memberikan laporan yang positif bagi usul konstitusi yang diajukan, dan Paus Paulus III mengukuhkan ordo ini melalui Bulla kepausan Regimini militantis Ecclesiae (27 September 1540), tetapi membatasi jumlah anggotanya 60 orang.[15] Batasan ini dihapuskan melalui bulla Injunctum nobis (14 Maret 1543). Ignatius dipilih menjadi pemimpin umum pertama.[15] Dia mengirim para sahabatnya sebagai misionaris ke seluruh Eropa untuk mendirikan sekolah, kolese, dan seminari.[15]

Ignatius menulis Konstitusi Serikat Yesus yang disahkan pada 1554.[16][15] Konstitusi ini menciptakan organisasi dengan kepemimpinan tunggal dan menetapkan penyangkalan diri dan ketaatan mutlak kepada Paus dan para pemimpinnya.[16] Prinsip utamanya menjadi Motto Yesuit: Ad Maiorem Dei Gloriam ("demi lebih besarnya kemuliaan Allah").[13][15][17]

Karya awal

Serikat Yesus didirikan bertepatan dengan Reformasi Katolik (Kontra-Reformasi), gerakan dalam Gereja Katolik yang ditujukan untuk melawan Reformasi Protestan (yang ajarannya menyebar ke seluruh Eropa yang beragama Katolik).[15][17] Mereka melaksanakan ketaatan total kepada Kitab Suci dan doktrin Katolik.[15][17] Ignatius pernah menyatakan dalam Latihan Rohaninya: "Saya percaya bahwa putih yang saya lihat adalah hitam bila hierarki Gereja mendefinisikan begitu."[15]

Ignatius Loyola dan para Yesuit pengikutnya percaya bahwa pembaruan Gereja harus dimulai dengan pertobatan hati.[16][18] Salah satu sarana utama untuk menghasilkannya adalah Latihan Rohani yang disebut retret Ignasian.[16] Selama empat minggu dalam kebisuan orang menjalani meditasi terpimpin mengenai hidup Kristus.[16] Pada masa itu, mereka secara teratur bertemu dengan seorang pembimbing rohani yang menolong mereka memahami panggilan atau pesan Tuhan melalui meditasi mereka.[16] Retret ini mengikuti pola Penyucian-Pencerahan-Kesatuan sesuai dengan tradisi mistik Yohanes Kasianus dan para Bapa Padang Pasir.[16] Ignatius menciptakan inovasi yang membuat mistisisme kontemplatif ini bisa diikuti oleh semua orang, dan menggunakannya sebagai sarana membangun kembali kehidupan rohani Gereja.[16][15]

Yesuit juga mendirikan banyak sekolah, yang menarik anak para elite karena metode pengajaran mereka yang maju dan moral yang tinggi.[15][11] Sekolah Yesuit memainkan peranan penting dalam memenangkan beberapa negara Eropa kembali ke Katolik, setelah beberapa lama didominasi oleh Protestan, terutama Polandia [11][17]

Sesuai dengan tradisi Katolik Roma, mereka mengajarkan penggunaan upacara dan dekorasi di dalam ritual dan Devosi Katolik.[11] Karena itu, banyak Yesuit perdana yang menonjol dalam seni visual dan pertunjukan maupun dalam musik.[11]

Kaum Yesuit berhasil mendapatkan pengaruh yang menonjol pada Periode Modern Awal karena para imam Yesuit sering bertindak sebagai "konfesor" raja-raja pada masa itu.[16][15] Disamping itu mereka berperan penting dalam Reformasi Katolik dan dalam berbagai misi Katolik karena struktur mereka yang kendur (tanpa harus tinggal dalam suatu komunitas, melakukan "doa ofisi" bersama, dan lain-lain) membuat mereka lebih fleksibel untuk memenuhi kebutuhan orang-orang pada masa itu.[16][15]

Pengembangan

Misi awal di Jepang dirasakan positif oleh pemerintah Jepang sehingga pemerintah memberikan kaum Yesuit tanah feudal Nagasaki pada 1580.[16][15][19] Namun hak ini dihapus pada 1587, karena pemerintah Jepang khawatir atas berkembangnya pengaruh Yesuit di sana.[16][15][19]

Dua misionaris Yesuit, Gruber dan D'Orville, mencapai Lhasa di Tibet pada 1661.[16]

Misi Yesuit di Amerika Selatan menimbulkan kehebohan hebat di Eropa, terutama di Spanyol dan Portugal, karena mereka dianggap mengganggu upaya penjajahan pemerintah kerajaan.[16][15] Kaum Yesuit sering kali menjadi satu-satunya kekuatan yang menghalangi perbudakan orang Indian.[16][15] Di banyak tempat di Amerika Selatan terutama wilayah yang kini dikenal sebagai Brasil dan Paraguay mereka membentuk pemerintahan kota Indian-Kristen yang disebut reduksi (bahasa Spanyol: Reducciones).