Lompat ke isi

Gereja

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Gereja Kristen)
Ilustrasi ecclesia di dalam naskah Hortus deliciarum, karya Heradis dari Landsberg, abad ke-12

Gereja adalah istilah eklesiologis apa yang dipahami oleh berbagai denominasi Kristen sebagai tubuh sejati umat Kristen atau lembaga asli yang didirikan oleh Yesus Kristus.[1][2][3] Istilah "Gereja" juga digunakan di ranah keilmuan sebagai muradif Kekristenan, sekalipun pada kenyataannya Kekristenan terdiri atas banyak Gereja atau denominasi, dan banyak di antaranya yang mendaku sebagai "satu-satunya Gereja yang sejati" dengan meliyankan yang lain.[4][5][6]

Bagi banyak orang Kristen Protestan, Gereja mengandung dua unsur, yakni kasatmata dan tak kasatmata. Gereja yang kasatmata adalah lembaga-lembaga tempat "Firman Allah secara murni diwartakan maupun disimak, dan sakramen-sakramen dilayankan menurut ketetapan Kristus", sementara Gereja yang tak kasatmata adalah segenap orang "yang sungguh-sungguh diselamatkan" (dan menjadi warga Gereja yang kasatmata).[7][2][8] Di dalam lingkup pemahaman akan Gereja yang tak kasatmata ini, "Gereja" (atau Gereja yang am) tidak merujuk kepada suatu denominasi Kristen tertentu, tetapi mencakup semua orang pribadi yang sudah diselamatkan.[2] Menurut teori cabang, yang digadang-gadangkan di kalangan Anglikan, Gereja-Gereja pelestari suksesi apostolik adalah bagian dari Gereja yang sejati.[9] Teori ini bertentangan dengan sikap menyematkan label "satu-satunya Gereja yang sejati" pada suatu lembaga nyata Kristen tertentu, yakni sikap eklesiologis yang dianut Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur, Gereja-Gereja Ortodoks Oriental, Gereja Asyur dan Gereja Purba di Timur.[1][10][3]

Di dalam Alkitab bahasa Indonesia, kata "jemaat" digunakan sebagai padanan untuk kata Yunani "eklesia" (ἐκκλησία), yang makna umumnya adalah "sidang jemaat" atau "jemaah".[11] Kata "eklesia" muncul di dalam 2 ayat Injil Matius, 24 ayat Kisah Para Rasul, 58 ayat surat-surat Paulus (termasuk contoh-contoh terawal dari penggunaannya untuk merujuk kepada suatu badan persekutuan umat Kristen), 2 ayat Surat kepada Orang Ibrani, 1 ayat Surat Yakobus, 3 ayat Surat Yohanes III, dan 19 ayat Kitab Wahyu. Jumlah total kemunculan kata "eklesia" di dalam Perjanjian Baru adalah 114 kali, kendati tidak selalu dipakai secara teknis untuk merujuk kepada Gereja.[12] Dengan demikian, eklesia dipakai sebagai sebutan bagi komunitas-komunitas lokal maupun sebagai sebutan yang bermakna semesta bagi segenap umat beriman.[13] Istilah "Kekristenan" (bahasa Yunani: Χριστιανισμός, Kristianismos) tercatat pertama kali digunakan sekitar tahun 100 Masehi oleh Ignasius, Uskup Antiokhia.[14]

Empat Ciri Gereja pertama kali mengemuka di dalam Syahadat Nikea tahun 381 yang menegaskan bahwa Gereja itu satu, kudus, katolik (am), dan apostolik (rasuli).[15]

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Kata Yunani "eklēsia Diarsipkan 2021-05-09 di Wayback Machine", secara harfiah berarti "yang dipanggil keluar" atau "yang dipanggil maju ke depan", dan lazimnya digunakan untuk menyifatkan sekelompok orang yang dipanggil berhimpun untuk melakukan sesuatu, teristimewa untuk menyifatkan rapat warga sebuah kota, misalnya di dalam nas Kisah Para Rasul 19:32–41. Kata ini adalah istilah Perjanjian Baru yang merujuk kepada Gereja (baik dalam arti jemaat lokal maupun dalam arti segenap umat beriman). Di dalam Septuaginta, kata "eklesia" digunakan sebagai padanan untuk kata Ibrani "qahal" (קהל). Sebagian besar bahasa rumpun Romawi dan rumpun Kelt menggunakan aneka ragam turunan dari kata ini, baik yang diwarisi maupun yang dipinjam dari bentuk Latinnya, ecclesia. Salah satu contohnya adalah kata "igreja" dalam bahasa Portugis, yang diserap menjadi kata "gereja" dalam bahasa Indonesia.[16]

Ikon Kristen Timur yang menggambarkan turunnya Roh Kudus, peristiwa yang menjadi tonggak sejarah "lahirnya Gereja"

Gereja mula-mula terbentuk di Yudea, negeri jajahan Romawi, pada abad pertama tarikh Masehi, berlandaskan ajaran-ajaran Yesus orang Nazaret, yang pertama kali menghimpun murid. Murid-murid inilah yang kemudian hari disebut "umat Kristen". Menurut Injil, Yesus mengamanatkan kepada mereka agar menyebarluaskan ajaran-ajarannya ke seluruh dunia. Bagi sebagian besar umat Kristen, hari Pentakosta (peristiwa yang terjadi sesudah Yesus naik ke surga) adalah hari jadi Gereja,[17][18][19] ditandai turunnya Roh Kudus ke atas murid-murid Yesus yang sedang berkumpul (Kisah Para Rasul 2).[20] Kepemimpinan Gereja berawal dari para rasul.

Karena terlahir dari lingkungan Yahudi zaman Haikal ke-2, sejak awal sejarah Kekristenan, umat Kristen menerima orang-orang non-Yahudi (bangsa-bangsa lain) tanpa mewajibkan mereka untuk menerima dan mengamalkan seluruh adat-istiadat Yahudi, misalnya adat khitanan (Kisah Para Rasul 10–15).[21] Dalam agama Yahudi, orang-orang semacam itu disebut proselit, orang-orang yang takut akan Allah, dan pengamal syariat Nuh. Beberapa pihak menduga bahwa konflik dengan para pemuka agama Yahudilah yang dalam waktu singkat mengakibatkan umat Kristen terusir dari rumah-rumah ibadat Yahudi di Yerusalem.[22]

Sedikit demi sedikit Gereja menyebar ke seluruh dan ke luar wilayah Kekaisaran Romawi, bahkan tumbuh pesat di kota-kota semisal Yerusalem, Antiokhia, dan Edesa.[23][24][25] Gereja dianiaya pemerintah Romawi lantaran umat Kristen menolak mempersembahkan kurban kepada dewa-dewi Romawi dan menentang penuhanan kaisar.[26] Gereja akhirnya dilegalisasi di Kekaisaran Romawi, bahkan dinaikkan statusnya menjadi Gereja Negara Kekaisaran Romawi pada abad ke-4 oleh Kaisar Konstantinus Agung dan Kaisar Teodosius I.

Sedari abad ke-2, umat Kristen sudah menyanggah ajaran-ajaran yang mereka anggap bidat, khususnya ajaran Gnostik dan juga ajaran Montanus. Ignasius dari Antiokhia pada awal abad ke-2, dan Ireneus pada akhir abad yang sama memandang persatuan dengan uskup sebagai uji iman Kristen yang benar. Sesudah Gereja dilegalisasi pada abad ke-4, perdebatan ajaran Arius dengan ajaran Tritunggal menjadi kontroversi besar, manakala para kaisar silih berganti menunjukkan keberpihakan kepada salah satunya.[27][28]

Peristilahan Kristen purba

[sunting | sunting sumber]
  Kawasan mayoritas Kristen pada tahun 325 Masehi
  Kawasan mayoritas Kristen pada tahun 600 Masehi

Dengan menggunakan kata eklēsia, umat Kristen perdana memanfaatkan suatu istilah yang memang merujuk kepada sidang-sidang negara kota Yunani yang hanya boleh dihadiri warganya, tetapi secara tradisional dipakai orang-orang Yahudi penutur bahasa Yunani sebagai sebutan untuk Israel, umat Allah,[29] sekaligus suatu istilah yang digunakan di dalam Septuaginta dengan makna pertemuan orang-orang yang berhimpun demi alasan-alasan keagamaan, sering kali untuk beribadat; dalam hal ini, eklesia dipakai sebagai padanan kata Ibrani "qahal" (קהל), yang juga dipadankan dengan kata Yunani "synagōgē" (συναγωγή), sehingga kedua kata Yunani itu dianggap kurang-lebih sinonim sampai kemudian hari dibedakan dengan lebih jelas oleh umat Kristen.[30]

Istilah eklesia hanya muncul di dalam dua ayat Injil, kedua-keduanya termaktub di dalam Injil Matius.[29] Ketika Yesus bersabda kepada Simon Petrus, "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan eklesia-Ku,"[31] kata eklesia berarti komunitas yang dibentuk Kristus, tetapi ketika Yesus bersabda, "jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada eklesia,"[32] kata eklesia berarti komunitas lokal tempat seseorang menjadi anggota.

Istilah ini lebih sering muncul di dalam bagian-bagian lain dari Perjanjian Baru, dan sebagaimana di dalam Injil matius, dipakai untuk merujuk kepada suatu komunitas lokal tertentu maupun kepada semua komunitas lokal secara kolektif. Malah ayat-ayat yang tidak menggunakan istilah eklesia sekalipun dapat saja merujuk kepada Gereja dengan menggunakan ungkapan-ungkapan lain, misalnya ayat-ayat di dalam 14 bab pertama dari Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, yang tidak satu kali pun menggunakan kata eklesia tetapi berulang kali menggunakan kata yang masih seakar dengannya, yakni klētoi (κλήτοι), yang berarti "dipanggil".[33] Gereja dapat pula dirujuk melalui gambaran-gambaran yang secara tradisional dipakai di dalam Alkitab untuk merujuk kepada umat Allah, misalnya pemakaian gambaran kebun anggur, teristimewa di dalam Injil Yohanes.[30]

Kendati tidak pernah menyifatkan Gereja dengan kata "katolik" maupun "semesta", Perjanjian Baru memang mengindikasikan bahwa komunitas-komunitas lokal secara kolektif merupakan satu Gereja, bahwasanya umat Kristen mestilah berusaha untuk senantiasa sehati sejiwa selaku jemaat Allah, bahwasanya Injil harus diwartakan kepada segala bangsa dan disebarluaskan sampai ke ujung-ujung bumi, bahwasanya Gereja terbuka kepada segala bangsa dan tidak boleh terpecah-belah, dst.[29]

Kata "katolik" atau "semesta" tercatat pertama kali digunakan untuk menyifatkan Gereja oleh Ignasius dari Antiokhia sekitar tahun 107 di dalam karya tulisnya, Surat kepada Jemaat di Smirna, bab VIII. "Di mana saja uskup hadir, di situ pula hendaknya umat hadir; sama seperti di mana saja Yesus Kristus hadir, disitu pula Gereja Katolik hadir," demikian tulis Ignasius.[34]

Bapa-bapa Gereja semisal Ignasius dari Antiokhia, Ireneus, Tertulianus, dan Siprianus berpandangan bahwa Gereja adalah suatu entitas yang kasatmata, bukan suatu himpunan umat beriman yang tak kasatmata.

Kekristenan sebagai agama negara bangsa Romawi

[sunting | sunting sumber]
Konstantinus Agung bersama para uskup peserta Konsili Nikea I tahun 325 membentangkan Syahadat Nikea-Konstantinopel tahun 381, ikon Kristen Timur

Kekaisaran Romawi secara resmi mengadopsi Kekristenan berhaluan Nikea menjadi agama negara pada tanggal 27 Februari 380. Sebelum itu, Kaisar Konstantius II dan Kaisar Valens secara pribadi memihak Kekristenan berhaluan Arian atau Semi-Arian, tetapi Kaisar Teodosius I yang memerintah sesudah Valens justru memihak ajaran Atanasius atau doktrin Tritunggal yang terjabarkan di dalam Syahadat Nikea.

Pada tanggal 27 Februari 380, Kaisar Teodosius I mempermaklumkan bahwa hanya pemeluk agama Kristen berakidah Tritunggal sajalah yang berhak disebut umat Kristen Katolik, sementara semua pihak berakidah lain harus dianggap sebagai ahli-ahli bidat, dan oleh karena itu merupakan para pelanggar hukum negara.[35] Situasi hukum yang baru ini pertama kali menunjukkan dampaknya pada tahun 385, dalam bentuk penjatuhan pidana mati oleh mahkamah sipil terhadap seorang ahli bidat bernama Priskilianus dan beberapa orang pengikutnya sesudah diputus bersalah melakukan tindak pidana sihir.[36] Dari abad ke abad sesudah Kekristenan berakidah Tritunggal menjadi agama negara, kaum pagan dan umat Kristen yang berakidah menyimpang secara rutin dipersekusi pemerintah Kekaisaran Romawi maupun kerajaan-kerajaan dan negara-negara yang kemudian hari menggantikannya,[37] kendati beberapa suku Jermani terus memeluk agama Kristen Arian sampai memasuki Abad Pertengahan.[38]

Gereja di dalam wilayah Kekaisaran Romawi diorganisasikan di bawah takhta-takhta metropolia. Lima di antaranya dihormati secara istimewa dan menjadi cikal bakal tatanan Pentarki yang digagas Kaisar Yustinianus I. Satu di antara lima takhta metropolia ini berada di kawasan barat Kekaisaran Romawi (Roma), sementara yang lain berada di kawasan timur Kekaisaran Romawi (