Festival Thadingyut
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
| Festival Thadingyut သီတင်းကျွတ်ပွဲတော် | |
|---|---|
| Nama lain | Festival Cahaya |
| Dirayakan oleh | Myanmar |
| Jenis | Buddha |
| Tanggal | Hari bulan purnama Thadingyut |
| Terkait dengan | Vap Poya (di Sri Lanka) Wan Ok Phansa (di Thailand) Boun Suang Huea (di Laos) Lhabab Duchen (di Tibet dan Bhutan) |
Festival Thadingyut (bahasa Burma: သီတင်းကျွတ်ပွဲတော်), juga dikenal sebagai Festival Cahaya Myanmar, merupakan festival yang diadakan pada hari bulan purnama pada kalender bulan lunar Burma, Thadingyut. Secara tradisional, Festival Thadingyut diselenggarakan pada akhir masa Retret Hujan Buddha (Vassa) dan dianggap sebagai perayaan terbesar kedua di Myanmar setelah Festival Thingyan atau Festival Air Tahun Baru. Festival ini memperingati turunnya Buddha dari surga setelah menyampaikan khutbah Abhidhamma kepada ibunya, Maya, yang telah terlahir kembali di alam surgawi. Thadingyut merupakan perayaan budaya dan keagamaan yang setiap tahun dirayakan oleh masyarakat Burma dengan penuh penghormatan dan kegembiraan.[1]
Asal-usul
[sunting | sunting sumber]Thadingyut, yang merupakan bulan ketujuh dalam kalender Myanmar, menandai berakhirnya masa retret Buddha atau Vassa. Festival Thadingyut biasanya dirayakan selama tiga hari, meliputi sehari sebelum purnama, hari purnama itu sendiri yang diyakini sebagai saat Buddha turun dari surga dan sehari setelahnya. Menurut ajaran Buddhis, ibu Buddha, Ratu Maya, wafat tujuh hari setelah kelahiran Buddha dan kemudian terlahir kembali sebagai dewa laki-laki di Surga Trayastrimsa.[2]
Sebagai ungkapan rasa bakti dan penghormatan kepada ibunya, Buddha mengajarkan Abhidhamma kepada sang ibu yang telah terlahir sebagai dewa selama tiga bulan. Saat beliau kembali ke dunia manusia, Sakra-devanam-indra, penguasa Surga Trayastrimsa, memerintahkan para makhluk suci dan roh jahat untuk membangun tiga tangga berharga yang terbuat dari emas, perak, dan batu rubi. Buddha menuruni tangga tengah yang terbuat dari batu mirah delima, sementara para Nat menggunakan tangga emas di sisi kanan dan para Brahma menuruni tangga perak di sisi kiri.[3]
Perayaan
[sunting | sunting sumber]Umat Buddha di Myanmar merayakan Festival Thadingyut sebagai bentuk penyambutan terhadap kembalinya Buddha dan para muridnya ke dunia. Dalam perayaan ini, jalan-jalan, rumah, serta bangunan umum dihiasi dengan lampu listrik atau lilin berwarna-warni yang melambangkan tiga tangga suci tempat turunnya Buddha. Selama festival berlangsung, berbagai hiburan rakyat seperti zat pwes (drama musikal khas Myanmar), pemutaran film gratis, dan pertunjukan panggung digelar di banyak kota. Suasana meriah juga diwarnai dengan deretan warung makan yang menawarkan hidangan tradisional serta kios yang menjual mainan, peralatan rumah tangga, dan berbagai barang lainnya. Selain itu, banyak masyarakat menikmati suasana malam dengan berjalan-jalan, menyalakan petasan, atau menerbangkan balon api sebagai bagian dari kesenangan perayaan.[4]
Selama hari raya, umat Buddha di Myanmar biasa mengunjungi pagoda dan wihara untuk menghormati Tiga Permata, memberi salam kepada para bhikkhu, serta menyumbang makanan. Beberapa umat juga berpuasa pada hari purnama. Anak-anak muda biasanya menghormati (gadaw) orang tua, guru, dan kerabat lansia dengan memberikan buah atau hadiah lain. Saat itu, mereka juga memohon maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan sepanjang tahun. Secara tradisi, para lansia menyatakan memaafkan dan mendoakan keberuntungan sambil memberi uang saku. Adik-adik juga biasa menghormati kakaknya, dan sebagai balasan, kakak mendoakan serta memberi uang saku kepada adiknya.[5]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Thadingyut Lighting Festival". Ye Lwin Oo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2015.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Shaw, M. (2006). Buddhist Goddesses of India (hlm. 45-46).
- ↑ "Chapter115 Buddha Preached Doctrine to His Mother-Fascinating Mural Stories from Dunhuang Grottoes". Nwp.cn. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-03-10. Diakses tanggal 2014-03-05.
- ↑ "Full moon day of Thadingyut (Lighting festival)2012 | Myanmar Upper Land". Word.myanmarupperland.com. 2012-10-30. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-03-05. Diakses tanggal 2014-03-05.
- ↑ "Thadingyut Festival by Htar Htar Wai | ESL Graduating Class". Elmonteesl.blog.com. 2011-12-01. Diakses tanggal 2014-03-05.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link)